Ingin Tahu Kandungan Boraks dalam Daging? Tiga Mahasiswa UNS Ini Ciptakan Alatnya

Olahan daging sapi sangat bervariasi, salah satunya digunakan untuk membuat bakso sapi dan sosis sapi.

Ingin Tahu Kandungan Boraks dalam Daging? Tiga Mahasiswa UNS Ini Ciptakan Alatnya
IST
Tim mahasiswa FMIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yakni Dita Putri Andaresta, Muntazah Azma dan Nanda Yudi Shofi Subekti menciptakan Prototype Sensor Fiber Optik untuk Mengetahui Kandungan Boraks Dalam Daging. 

TRIBUNJATENG.COM, SURAKARTA - Olahan daging sapi sangat bervariasi, salah satunya digunakan untuk membuat bakso sapi dan sosis sapi.

Namun, ada beberapa oknum produsen yang menggunakan cara instan untuk memperoleh daging dengan kualitas yang baik.

Cara instan itu dengan penambahan bahan kimia berupa boraks.

Melihat kondisi tersebut, Tim mahasiswa dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang terdiri dari Dita Putri Andaresta, Muntazah Azma dan Nanda Yudi Shofi Subekti dengan dibimbing oleh Mohtar Yunianto S.Si., M.Si menciptakan Prototype Sensor Fiber Optik untuk Mengetahui Kandungan Boraks Dalam Daging.

“Ini kami buat untuk mengetahui kandungan boraks dalam daging sehingga dalam riset selanjutnya hasil ini berpotensi untuk dapat dibuat sebuah alat pendeteksi kandungan boraks,” terang Dita, Kamis (4/7/2019).

Dita menambahkan, untuk cara kerjanya dari sensor fiber optik ini yaitu dengan menembakkan cahaya ke dalam daging yang mengandung boraks kemudian dipantulkan dan ditangkap oleh fiber optik.

Sinyal listrik didapat dari ocean optic spectrometer yang akan masuk ke fiber optik dengan dihubungkan oleh konektor.

Pada fiber optik mengubah sinyal listrik menjadi gelombang cahaya yang dibelokkan dan bagian yang mengenai sampel daging akan memiliki informasi digital.

Informasi tersebut masuk ke dalam ocean optic spectrometer USB4000 yang keluarannya berupa transmitansi dan panjang gelombang.

Nilai transmitansi, yang didapat yaitu semakin banyak kandungan boraks di dalam daging maka akan semakin menurun.

Nilai transmitansi berbanding terbalik dengan absorbansi (nilai serapan) sehingga semakin banyak kandungan boraks maka nilai serapannya  semakin banyak pula.

“Dengan hadirnya alat ini diharapkan bisa memudahkan dalam mengidentifikasi kandungan boraks dalam daging tanpa membutuhkan uji secara laboratorium,” ujarnya. (*)

Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved