Kemarau Membuat Air Sumur Warga Sumpiuh Banyumas Menguning

Musim kemarau yang melanda menyebabkan air sumur milik warga di Desa Nusadadi, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas menguning

Kemarau Membuat Air Sumur Warga Sumpiuh Banyumas Menguning
Tribunjateng.com/Permata Putra Sejati
ibu-ibu di Desa Nusadadi pada saat mencuci pakaian di Sungai, karena air sumur mereka bau dan menguning, pada Jumat (5/7/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Musim kemarau yang melanda menyebabkan air sumur milik warga di Desa Nusadadi, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas menguning.

Bahkan bukan hanya menguning, air yang terlihat keruh tersebut juga berbau korosi. Ada sekitar 650 kepala keluarga (KK) saat ini yang membutuhkan bantuan air bersih. 

Selama hampir 2 bulan hujan sudah tidak turun dan menyebabkan kekeringan di Banyumas semakin meluas. Hal itu menyebabkan permintaan bantuan air bersih untuk warga desa yang tinggal di zoa merah kekeringan   terus bertambah.

"Setiap kemarau pasti ada perubahan kualitas air sumur. Setiap kemarau pula air sumur disini menjadi kuning, baunya tidak sedap, seperti bau korosi," ujar Karsimin (37) warga setempat kepada Tribunjateng.com, Jumat (5/7/2019).

Karsimin dan keluarganya mengaku tidak berani mengkonsumi air sumur. Sebagai pengganti untuk memenuhi kebutuhan air minum, warga di Desa Nusadadi yang terdiri dari Dusun Nusadadi, Kalisetra, Soka dan Kedungsampang harus membeli air galon untuk air minum. Sedangkan keperluan memasak mereka juga membeli air bersih dengan jeriken.  

"Ketika kemarau pengeluaran kami membengkak. Harga 1 galon air Rp 6.000 belum air untuk memasak 1 jeriken Rp 2.500 jeriken, padahal sehari bisa lebih dari 2 jerikan," katanya.

Warga setempat mengharapkan adanya bantuan air bersih seperti tahun sebelumnya.

"Kemarau tahun lalu setiap pekan ada bantuan air minum, saat ini sejak kemarau baru sekali ada bantuan, tapi  langsung habis diserbu warga, karena semuanya membutuhkan," ungkap Karsimin.

Bantuan air bersih langsung habis dibagikan semua warga. Di desa tersebut ada sekitar 650 kepala keluarga (KK) yang semuanya juga sama-sama membutuhkan air bersih.
Selain kesulitan memperoleh air bersih, kebutuhan mencuci baju sebagian besar ibu-ibu di Nusadadi terpaksa memanfaatkan air sungai. Meski debitnya kecil namun airnya lebih jernih dan tidak bau. 

"Kalau pakai air sumur untuk mencuci warna baju jelas bisa berubah. Baju putih bisa jadi   coklat dan perubahan warnanya permanen. Kasihan anak kalau warna  baju seragam sekolahnya menjadi buluk," kata Purwati (35).

Halaman
12
Penulis: Permata Putra Sejati
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved