OPINI Adib Khumaidi : Profesionalisme Mewujudkan Kemandirian dan Perlindungan Dokter

Kata profesionalisme dalam profesi dokter merupakan kata kunci dalam Undang-Undang RI no. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran

OPINI Adib Khumaidi : Profesionalisme Mewujudkan Kemandirian dan Perlindungan Dokter
Tribun Jateng
dr Adib Khumaidi, SpOT 

Oleh dr Adib Khumaidi, SpOT
President Elect PB IDI

Kata profesionalisme dalam profesi dokter merupakan kata kunci dalam Undang-Undang RI no. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran yang sempat membuat gerah kalangan dokter. Yang langsung tampak oleh para dokter pada saat awal undang-undang tersebut diberlakukan, khususnya para spesialis, adalah pembatasan gerak mereka dalam bentuk pembatasan jumlah tempat praktik.

Itu suatu reaksi yang alami dalam suatu upaya pembenahan. Perlahan akhirnya terjadi adaptasi terhadap suatu aturan dalam profesi dokterdi Indonesia terkait dengan penerapan UU Praktik Kedokteran. Konsep protecting the people and guiding the doctors akhirnya dapat diterima oleh para dokter di Indonesia

Profesionalisme memiliki kata dasar profesi yang dalam bahasa Inggris profess yang berart “janj iuntuk memenuhi kewajiban melakukan tugas khusus secara tetap/permanen.

Menurut K Bertens profesi adalah suatu moral community yang memiliki nilai dan cita-cita bersama. Profesionalisme adalah berhubungan dengan profesi dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya (KBBI, 1994) .Wilensky dalam tulisannya “The professionalization ofeveryone?“ di majalah American Journal of Sociology tahun1964 menyatakan bahwa profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan dukungan body of knowledge sebagai dasar perkembangan teori yang sistematis, menghadapi banyak tantangan dan karena itu membutuhkan latihan yang cukup lama, memiliki kode etik serta orientasi utamanya adalah memberikan pelayanan

Karena adanya ciri-ciri seperti ini sering disebutkan bahwa seorang hanya dapat disebut sebagai warga profesi (aprofessional person ) apabila memenuhi kesemua ciri di atas. Ciri-ciri yang dimaksud jika dapat dibedakan atas empat macam, yakni keahlian( expertise), bertanggung jawab (responsibility), kesejawatan (corporateness) serta etis ( ethics).

Dulu profesi dokter dianggap profesi yang sangat mulia. Orang yang memiliki profesi dokter dianggap “perwakilanTuhan“ yang diturunkan ke bumi untuk membantu manusia mengatasi penyakit dan penderitaannya. Karena kemuliaan profesi inilah sehingga dokter ditempatkan pada strata tertinggi dalam status sosialnya.

Tapi zaman telah berubah. Lompatan teknologi, perubahan lingkungan dan cara transaksi ekonomi membutuhkan kehadiran sistem kerja baru. Era yang dikenal dengan era disrupsi (disruption) .Menurut Clayton M Christensen, The concept of disruption is about competitive response, it is not theory ofgrowth .Its adjacent togrowth .But it is not about growth. Dibutuhkan manusia baru yang mampu mengikuti semua perubahan dan selalu menjadi yang terkini (trendsetter) bukan semata-mata follower saja.

Disinilah ujian yang dihadapi profesi dokter saat ini. Dalam menjalankan karirnya dihadapkan dengan pasar tenaga kerja yang tidak bisa terhindar dari prinsi-prinsip ekonomi. Dalam tulisan Pribakti di buku “Masih Muliakah Profesi Dokter?" dituliskan bahwa pertama tenaga kerja akan dihitung sama dengan resources lain ,misalnya tanah, bangunan, fasilitas medik,dll. Kedua pekerjaan bukan merupakan hak pekerja, tetapi kesempatan yang diberikan oleh pemberi kerja. Ketiga pasar adalah proses eliminasi.

Kompetisi di pasar akan melahirkan yang terbaik. Di sisi lain akan banyak potensi dokter yang akan tersingkir. Keempat hukum supply and demand berjalan, bilas upply meningkat maka harga akan turun. Bila supply melebihi demand, pemberi kerja akan lebih leluasa memilih.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved