Petaka Perzinahan Atasan, Baiq Nuril Makin Terpukul PK Ditolak MA hingga Tanggapan Jokowi

Kuasa hukum Baiq Nuril, Joko Jumadi mengatakan, kliennya sangat terpukul saat mendengar MA) menolak PK kasusnya.

Petaka Perzinahan Atasan, Baiq Nuril Makin Terpukul PK Ditolak MA hingga Tanggapan Jokowi
KOMPAS.com/FITRI RACHMAWATI
Terpidana kasus UU ITE Baiq Nuril Maknun menjalani sidang peninjauan di Pengadilan Negeri Mataram, Nusan Tenggara Barat, Kamis (10/1/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, MATARAM -- Upaya guru di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Baiq Nuril, untuk melepaskan diri dari jerat pidana kasus perekaman ilegal; pada tingkat Peninjauan Kembali (PK) tak membuahkan hasil. Mahkamah Agung (MA) menolak PK yang diajukan Baiq Nuril.

Kuasa hukum Baiq Nuril, Joko Jumadi mengatakan, kliennya sangat terpukul saat mendengar MA) menolak PK kasusnya. Saat ini, pihaknya tengah berusaha menenangkan Nuril.

"Bagaimanapun dia sedihlah menerima putusan MA ini, tetapi keyakinan Nuril bahwa dia tidak bersalah, meskipun MA menganggapnya bersalah dengan ditolaknya Peninjauan Kembali (PK)," kata Joko, kepada Kompas.com, Jumat (5/7).

Meski PK ditolak, kata Joko, Nuril harus tetap tabah. "Ini cukup mengejutkan, kita semua sebenarnya tidak percaya PK yang kami dan Nuril ajukan akan ditolak MA, ya..ini harus dihadapi. Tetapi Nuril harus kuat, harus siap karena dia tetap di posisi yang benar, Nuril tidak salah," kata Joko.

Sebelumnya, Pengadilan Negeri (PN) Mataram sempat membebaskan Nuril 2017 silam. Namun, jaksa penuntut umum (JPU) mengajukan kasasi. MA mengabulkan kasasi dengan menghukum Nuril enam bulan penjara dan denda Rp 500 juta, subsider tiga bulan penjara.

Hakim MA menilai hukuman itu dijatuhkan pada Nuril lantaran telah merekam percakapan asusila Kepala SMAN 7 Mataram, M. Perbuatan Nuril dinilai membuat keluarga besar M menanggung malu.

Nuril kemudian mengajukan Permohonan PK terhadap putusan MA, Nomor 574K/PID.SUS/2018 tanggal 26 September 2018, juncto putusan Pengadilan Negeri Mataram, Nomor 265/Pos.Sus/2017/PN Mtr tanggal 26 Juli 2017.

Namun, MA menolaknya, Atas penolakan itu, Nuril akan menghadapi hukuman penjara enam bulan dan denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan.

Kasus bermula saat Baiq Nuril menerima telepon dari Kepsek M pada 2012. Dalam perbincangan itu, Kepsek M menceritakan tentang hubungan badannya dengan seorang wanita yang juga dikenal Nuril.

Oleh karena merasa dilecehkan, Nuril merekam perbincangan tersebut.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved