Ngopi Pagi

Fokus : Membangun Bersama Oposisi

Wakil Sekjen Gerindra, Andre Rosiade menyampaikan jika pertemuan antara Jokowi dan Prabowo akan berlangsung bulan ini

Fokus : Membangun Bersama Oposisi
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
GALIH Pujo Asmoro wartawan Tribun Jateng

Oleh  Galih Pujo Asmoro

Wartawan Tribun Jateng

Rencana pertemuan antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto terus berdengung. Hampir semua kalangan di Indonesia menantikan pertemuan dua tokoh yang saat ini merupakan episentrum politik nasional.

Namun hingga kini, rencana pertemuan keduanya belum jelas kapan bakal terlaksana.
Pekan lalu, Wakil Sekjen Gerindra, Andre Rosiade menyampaikan jika pertemuan antara Jokowi dan Prabowo akan berlangsung bulan ini. Menurutnya, terkait waktu pertemuan diatur secara langsung oleh keduanya.

“Sedang diatur one on one Jadi Pak Prabowo dengan Pak Jokowi langsung yang akan mengatur jadwal kapan mereka bertemu,” demikian pernyataan Andre.

Kabar dari Andre tersebut tentu saja jadi angin segar bagi kondisi politik nasional, di mana ketegangan pascapilpres belum sepenuhnya mereda. Pertemuan Jokowi dengan Prabowo diyakini bakal mampu membuat kondisi politik Indonesia kian adem.

Namun sepertinya, tidak semua orang menghendaki pertemuan Jokowi dan Prabowo terlaksana. Buktinya, Jumat (5/7/2019) kemarin, puluhan emak-emak pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menggelar demo menolak rencana pertemuan dan rekonsialis Jokowi dengan capres jagoannya. Mereka tidak setuju jika Prabowo dan Jokowi bertemu untuk rekonsiliasi.

Alasannya, menurut mereka, rekonsiliasi adalah menerima bergabung dan menghilangkan sejarah lama telah terjadi. “”Bagaimana kecurangan yang begitu masif, begitu terstruktur, kasat mata, mereka bisa lihat tapi mereka abaikan," ujar emak-emak yang berdemo di depan rumah Prabowo di Jalan Kertanegara, Jakarta.

Mereka juga beranggapan jika berbagai “kasus” yang terjadi bakal dikompromikan andai pertemuan itu terjadi. Satu di antaranya adalah persoalan kematian KPPS yang mencapai ratusan orang.
Apa yang dilakukan emak-emak pendukung Prabowo tersebut sah-sah saja.

Mereka seperti layaknya “oposisi” dalam sebuah pemerintahan demoktratis. Suaranya kadang berbeda dengan pemegang kebijakan, namun perlu didengar karena mereka memberi perspektif yang tidak sama dalam melihat suatu masalah.

Namun yang paling penting, jika pertemuan Prabowo dengan Jokowi terjadi, sudah selayaknya segenap pendukung keduanya juga bersalaman. Jangan sampai ada lagi saling ejek dan bersitegang di media sosial dengan menyerang sosok pribadi. Karena bukan tidak mungkin, ketika para elit di atas saling berangkulan, “baku hantam” di media sosial antara pendukung dua orang tersebut masih terjadi.

Bangsa Indonesia bisa disebut beruntung karena negara tidak mengekang kebebasan berbicara dengan batasan tertentu. Bayangkan saja jika pemerintah tidak memberi kebebasan seperti itu, seperti layaknya negara otoriter.

Tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada orang yang memlesetkan nama presiden dengan sebutan terkesan menghina di media sosial. Jika hidup di negara otoriter, bisa jadi, orang tersebut tidak hanya diciduk polisi, diperiksa dan diadili.

Oleh karena itu, pasangan Joko Widodo-Maruf Amin sebagai pimpinan Indonesia periode 2019-2024 perlu didukung semua pihak termasuk oposisi. Tapi sekali lagi, mereka juga butuh oposisi yang sifatnya memberikan kritik membangun dengan data dan alasan yang masuk akal tidak hanya “pokoke”.

Jangan mencari-cari kesalahan, lantaran mencari kesalahan seseorang itu adalah hal yang sangat gampang. Jangan sampai mata kita tidak bisa melihat gajah di depan hidung sementara semut di seberang lautan jelas di pandangan. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved