Derita Sunarti 12 Tahun Buka Warung, Tergerus Toko Modern dan Hanya Laku 5 Bungkus Rokok Sehari

Seorang wanita termenung di dalam warung yang terbuat dari kayu berukuran kurang lebih 1,5 meter kali 1 meter.

Derita Sunarti 12 Tahun Buka  Warung, Tergerus Toko Modern dan Hanya Laku 5 Bungkus Rokok Sehari
TRIBUN JATENG/BUDI SUSANTO
Warung kecil di pinggir Jalan A Yani Kauman Kabupaten Batang, tempat berdagang pasangan suami istri Sutrisno dan Sunarti, Selasa (9/7/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Seorang wanita termenung di dalam warung yang terbuat dari kayu berukuran kurang lebih 1,5 meter kali 1 meter.

Ditemani sang suami, wanita itu berbincang sembari menunggu pembeli datang.

Beberapa dagangan yang dijajakan di warung nampak berdebu karena sudah lama dipanjang.

Mereka adalah Sutrino (65) dan Sunarsih (65) warga Pelampitan, Kauman Kabupaten Batang.

Keduanya sudah 12 tahun membuka warung di pinggir Jalan A Yani, yang kini warung milik pasangan suami istri tersebut kian sepi pembeli.

Pasalnya tempat mencari rezeki Sutrisno dan Sunarti hanya berjarak kurang dari 20 meter dari minimarket.

Mereka hanya bisa bertahan digerus megahnya toko-toko modern jejaring yang kini menjamur di Kabupaten Batang.

Tak jarang Sunarti membawa pulang kurang dari Rp 50 ribu dari hasil berdagang.

Hal tersebut dikatakannya jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu.

“Sekarang masyarakat memilih membeli kebutuhan di minimarket, padahal sebelum banyak toko modern warung kami sangat ramai,” paparnya kepada Tribunjateng.com, Selasa (9/7/2019).

Sunarti menerangkan, dalam sehari ia hanya bisa menjual 5 bungkus rokok.

“Sebelum banyak toko modern dari pagi hingga sore hari kami bisa membawa Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta, namun kini Rp 50 ribu saja sudah beruntung,” jelasnya.

Kekhawatiran pasangan lanjut usia tersebut semakin menjadi-jadi saat menceritakan warung-warung besar di sekitarnya gulung tikar.

“Banyak warung kelontong besar di sekitar sini tutup karena tak ada pembeli, kami merasakan takut kalau hal tersebut terjadi pada warung kami.

Karena warung ini menjadi sumber rezeki, kami hanya bisa bertahan entah sampai kapan,” paparnya.

Sementara itu sang suami Sutrisno, mengakui pembangunan toko modern sangat cepat dari tahun ke tahun.

“12 tahun lalu kami memulai usaha, dan lumayan ramai karena belum banyak toko.

Namun sekarang kondisinya berbalik, masyarakat memilih membeli ke minimarket,” ujarnya.

Ditambahkannya, warungnya hanya bergantung kepada pembeli rokok eceran serta beberapa kebutuhan mandi sachet.

“Ya hanya itu yang bisa dijual, kami hanya bisa berdiri sendiri tanpa meminta bantuan orang lain maupun pemerintah.

Kami berharap masih ada pembeli di warung kami,” tambahnya. (bud)

Penulis: budi susanto
Editor: muh radlis
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved