Pasca Tragedi 737 MAX Kinerja Bisnis Boeing dan Airbus Njomplang

Boeing menyatakan jumlah pengirimannya anjlok sekitar 37 persen menjadi 239 pesawat pada semester pertama tahun 2019

Pasca Tragedi 737 MAX Kinerja Bisnis Boeing dan Airbus Njomplang
AFP PHOTO/GETTY IMAGES/STEPHEN BRASHEAR
Pesawat generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 mendarat di Boeing Field seusai menyelesaikan terbang pertamanya di Seattle Washington, Amerika Serikat, 29 Januari 2016. Pesawat ini merupakan seri terbaru dan populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui. 

TRIBUNJATENG.COM - Tragedi kecelakaan 737 MAX masih menjadi awan kelabu bagi Boeing Co.

Kini, produsen pesawat asal Amerika Serikat ini juga berpotensi tergusur dari singgasana.

Dilansir Kontan.co.id mengutip dari Reuters, Boeing menyatakan jumlah pengirimannya anjlok sekitar 37 persen menjadi 239 pesawat pada semester pertama tahun 2019 ini.

Kebijakan larangan terbang yang dilakukan oleh seluruh regulator penerbangan di dunia terhadap 737 MAX yang sebelumnya merupakan pesawat paling laris menjadi alasannya.

Akibatnya, penurunan pengiriman ini menempatkan Boeing di ujung tanduk untuk kehilangan gelar sebagai produsen pesawat terbesar di dunia yang mereka pegang selama delapan tahun.

Jumlah pengiriman Boeing tertinggal dari saingannya asal Eropa yakni Airbus SE.

Perusahaan Prancis tersebut menyerahkan 389 pesawat pada periode yang sama.

Berbeda dengan Boeing, pengiriman pesawat Airbus melesat 28 perseb dibandingkan tahun sebelumnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Boeing terancam kehilangan gelar sebagai produsen pesawat terbesar di dunia

Editor: galih pujo asmoro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved