Ritual Sedekah Bumi, Perangkat Desa Lahar Kabupaten Pati Kelilingi Rumah Peninggalan Leluhur

Ada ritual khas dalam prosesi sedekah bumi yang digelar Masyarakat Desa Lahar Kecamatan Tlogowungu sebagai wujud syukur kepada Tuhan.

Ritual Sedekah Bumi, Perangkat Desa Lahar Kabupaten Pati Kelilingi Rumah Peninggalan Leluhur
IST
Prosesi Mengelilingi Punden dalam Sedekah Bumi di Desa Lahar, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati. 

TRIBUNJATENG.COM, PATI – Ada ritual khas dalam prosesi sedekah bumi yang digelar Masyarakat Desa Lahar Kecamatan Tlogowungu sebagai wujud syukur kepada Tuhan.

Ritual tersebut ialah mengelilingi rumah peninggalan Mbah Kopek, leluhur desa yang diangap sebagai "danyang".

“Sedekah bumi di Desa Lahar dilaksanakan setiap hari Kamis Pahing bulan Apit (Dzulqo’dah). Sedekah bumi adalah bentuk rasa syukur terhadap Allah yang telah memberikan hasil bumi yang cukup melimpah.

Sehingga sudah sepatutnya kami bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah,” ujar Kepala Desa Lahar Setiawan Budhiaji, Kamis (11/7/2019).

Prosesi sedekah Bumi Desa Lahar dilaksanakan mulai pukul 11.30 WIB, diawali dengan para perangkat desa mengelilingi rumah peninggalan sang danyang.

Lokasinya berada di tengah pasar Desa Lahar. Rumah peninggalan leluhur desa ini lebih dikenal sebagai Punden.

Setelah ritual mengelilingi punden selesai, prosesi dilanjutkan dengan doa bersama atau bancakan.

Dalam panjatan doa, sesepuh desa bersyukur atas limpahan karunia dari Sang Pencipta dan memohon agar masyarakat Desa Lahar diberi kedamaian serta kesejahteraan.

Usai doa dipanjatkan, puluhan warga dari berbagai daerah berebut nasi yang dibungkus anyaman bambu.

Masyarakat setempat menyebutnya “Tlandik/kreneng”.

Fian, pengunjung asal Desa Mojoagung kecamatan Trangkil mengatakan, nasi yang diperoleh dari tradisi sedekah bumi dipercaya mempunyai daya magis tersendiri dalam berbagai hal.

Dari situ, dirinya bersama beberapa warga lainnya rela berebut nasi berkat tersebut untuk dibawa pulang.

“Nasi (berkat) dari acara sedekah bumi ini saya jual lagi mas nantinya. Bisa mencapai Rp.30.000 per tlandik.

Bukan untuk dimakan, tetapi nasi dikeringkan dan nantinya di sebar di laut untuk mencari ikan.

Kami percaya hasil tangkapan akan semakin banyak. Selain itu juga bisa disebar di tambak atau sawah,” ungkap Fian. (Mazka Hauzan Naufal)

Penulis: Mazka Hauzan Naufal
Editor: muh radlis
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved