Mahasiswi Asal Rembang Ciptakan Anestesi Cacing Sutra Ramah Lingkungan untuk Ternak Ikan

Beberapa peternak ikan menggunakan pakan alami, antara lain cacing sutra. Penggunaan cacing sutra untuk budidaya ikan memiliki beberapa keuntungan.

Mahasiswi Asal Rembang Ciptakan Anestesi Cacing Sutra Ramah Lingkungan untuk Ternak Ikan
Tribun Jateng/ Mazka Hauzan Naufal
Wulandari dan rekan-rekannya menunjukkan anestesi cacing sutra dari limbah pabrik rokok yang mereka ciptakan. 

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Seiring tren positif peningkatan produksi perikanan budidaya sejak sejak tahun 2009, kebutuhan pakan ikan juga meningkat.

Pakan memiliki peran penting bagi pertumbuhan dan perkembangan ikan. Beberapa pembudidaya ikan menggunakan pakan alami, antara lain cacing sutra.

Penggunaan cacing sutra untuk budidaya ikan memiliki beberapa keuntungan.

Selain harganya yang lebih murah dan dapat mengurangi pencemaran kualitas air tambak/kolam, cacing sutra mempunyai kandungan gizi yang lebih lengkap dibanding pakan buatan.

Hal itu disampaikan Wulandari (23) Mahasiswi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro kepada Tribunjateng.com, Sabtu (13/7/2019).

"Namun, cacing sutra mudah busuk. Oleh karena itu, dalam pendistribusiannya, diperlukan proses pembiusan," ujar dara asal Kabupaten Rembang ini.

Bahan antiseptik dan anestesi yang biasa digunakan dalam proses pembiusan, lanjut Wulandari, mengandung senyawa eugenol.

"Kandungan tinggi eugenol ditemukan dalam cengkeh. Adapun cengkeh merupakan bahan utama pembuatan rokok. Hal itu menunjukkan bahwa kemungkinan besar limbah rokok mengandung senyawa eugenol yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar anestesi sehingga meningkatkan nilai ekonomis limbah dan mengurangi pembuangan di lingkungan," terangnya.

Atas dasar itulah, Wulandari bersama kedua rekannya, yakni Mutia Apriliani (20) dan Rika Amelia (20) melakukan penelitian lebih lanjut mengenai anestesi cacing sutra dari hasil distilasi limbah cair pabrik rokok.

Hasilnya, dengan bimbingan Dr Pujiono Wahyu Purnomo, mereka berhasil menghasilkan produk anestesi ramah lingkungan dari limbah cengkeh perusahaan rokok.

"Bahan limbah rokok yang digunakan adalah limbah cair cengkeh hasil produksi rokok dari Pabrik PT Djarum Oasis. Limbah tersebut kemudian didistilasi untuk mengambil minyak atsirinya. Minyak atsiri kemudian diekstrak untuk mendapatkan eugenol murninya. Eugenol inilah yang dijadikan sebagai bahan anestesi untuk cacing sutra," jelasnya.

Berdasarkan hasil penelitian, lanjut Wulandari, pemberian anestesi limbah rokok pada cacing sutra mampu memperpanjang waktu hidup cacing sutra.

Menurutnya, pemberian anestesi dari limbah rokok mampu memperpanjang waktu pengiriman cacing sutra hingga 96 jam.

"Setelah 96 pembiusan dengan anestesi dari limbah rokok ini, dibutuhkan penyiponan dengan air tawar selama 5 jam untuk mengembalikan cacing sutra pada kondisi normal. Cacing sutra yang telah melalui penyiponan setelah dibius memiliki karakteristik yang sama dengan cacing sutra yang masih segar, yaitu berwarna merah cerah, bergerak aktif dan tidak bergerombol," paparnya.

Wulandari menegaskan, inovasi ini mampu mendukung peningkatan perikanan budidaya air tawar karena kebutuhan pakan alaminya terpenuh. Selain itu juga mengurangi pencemaran di lingkungan dan menambah nilai ekonomis limbah. (Mazka Hauzan Naufal)

Penulis: Mazka Hauzan Naufal
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved