Kreatif, Mahasiswa Undip Semarang Ciptakan Ekstrak Antibiotik dari Sabut Kelapa
sabut kelapa bekas yang tidak bernilai jual bisa diolah dan diekstrak menjadi antibiotik bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA).
Penulis: Adelia Sari | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Sabut kelapa sering kali hanya dimanfaatkan sebagi media tanam tumbuhan atau untuk bahan bakar kayu.
Namun siapa sangka, sabut kelapa bekas yang tidak bernilai jual bisa diolah dan diekstrak menjadi antibiotik bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA).
MRSA sendiri merupakan bakteri pada anak-anak dan orang dewasa yang dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti bisul, jerawat, infeksi luka, pneumonia, meningitis dan masih banyak lagi.
Dari hal inilah, tim penelitian PKM PSH Undip dari jurusan Kedokteran yang beranggotakan Mardelia Nur Fatana, Fadzila Nur Aini dan Vincentius Bonaverrel membuat inovasi ekstrak sabut kelapa untuk memerangi bakteri tersebut.
"Latar belakang kami melakukan penelitian ini karena keresahan kami akan infeksi nosokomial (infeksi yang terjadi di layanan kesehatan seperti rumah sakit), infeksi ini mengalami rata-rata peningkatan di negara berkembang hingga 10%. Apalagi seperti di indonesia yang beriklim tropis infeksi ini sangat rawan dan sering terjadi.
Kami akhirnya mencari solusi dengan penggunaan zat flavonoid yaitu zat aktif yang ada pada tumbuhan yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Dari berbagai macam pilihan kami menjatuhkan pada sabut kelapa," ucap Vincentius Bonaverrel, Rabu (17/7/2019).
Sabut kelapa mengandung zat antimikroba berupa tannin dan flavonoid. Kedua zat ini mampu menghambat laju pertumbuhan bakteri.
Alasan Bona dan timnya memilih sabut kelapa juga karena bahan ini mudah ditemui di wilayah Indonesia.
Untuk mengubah sabut kelapa menjadi ekstrak anti bakteri butuh beberapa proses dan waktu yang la.
"Ekstraksinya lama mengingat kami menggunakan metode sederhana untuk membuat ekstraknya," lanjut Bona.
Langkah pertama adalah persiapan simplisa meliputi pemisahan, pengeringan dan pemotongan sabut kelapa.
Kemudian sabut di ekstrasi dengan metode maserasi dengan ethanol 96%.
Dari proses ini didapatkan serbuk ekstrak sabut kelapa. Lalu diencerkan dengan DMSO 2%.
Bona dan timnya berharap penelitian ini mampu meningkatkan pengolahan sabut kelapa yang selama ini janya menjadi limbah.
Serta sebagai terapi alternatif terhadap infeksi bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dan memperkenalkannya kepada masyarakat.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/inovasi-ekstrak-sabut-kelapa-untuk-memerangi-bakteri.jpg)