Wakil Bupati Tegal: Kembangkan Desa Wisata Perlu Diimbangi SDM Mumpuni

Pelatihan yang berlangsung selama lima hari, 18 - 22 Juli 2019 itu diikuti 30 orang unsur Pokdarwis maupun Bumdes berbagai desa.

TRIBUN JATENG/AKHTUR GUMILANG
Wakil Bupati Tegal Sabilillah Ardie memberikan cendramata usai Pelatihan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) Manajemen Pengelolaan Desa Wisata di Ruang Rapat Dispermades, Kamis (18/7/2019) pagi. 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Pengembangan desa wisata perlu diimbangi dengan ketersediaan sumberdaya manusia (SDM) agar pengelolaannya benar.

Pernyataan tersebut dilontarkan Wakil Bupati Tegal, Sabilillah Ardie saat membuka Pelatihan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) Manajemen Pengelolaan Desa Wisata di Ruang Rapat Dispermades Kabupaten Tegal, Kamis (18/7/2019).

Pada pelatihan ini, adapun hadir sebagai pemateri utama dari Balai Besar Latihan Masyarakat Yogyakarta.

Pelatihan yang berlangsung selama lima hari, 18 - 22 Juli 2019 itu diikuti 30 orang unsur Pokdarwis maupun Bumdes berbagai desa.

Di antaranya Desa Cintamanik, Rembul, Bojong, Jatinegara, Luwijawa, Pagerwangi, Bukateja, Batuagung, Lebaksiu Lor, dan Dermasuci.

Ardie menyakini, peserta yang mengikuti pelatihan itu dapat membantu Pemdes dalam menggali dan mengoptimalkan potensi wisata desa.

"Semoga setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta bisa mengelola desa wisata dengan berdaya guna dan berhasil guna. Sehingga dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa serta pendapatan asli desa," kata Ardie.

Dia mengakui, Kabupaten Tegal terletak pada posisi dan geografis yang sangat strategis.

Sebab, ujar Ardie, Kabupaten Tegal dilewati oleh persilangan transportasi ekonomi antara jalur pantura dan jalur selatan.

Selain itu, Kabupaten Tegal juga dilihat memiliki kondisi geografis pesisir pantai, dataran rendah, dan pegunungan.

Sehingga, Kabupaten Tegal bisa memiliki potensi keindahan dan keunikan alam yang terdapat di setiap desa.

"Untuk itu, tiap desa harus dapat menggali dan mengembangkan wisata desa, supaya menjadi komoditas wisata unggulan yang dapat memberikan manfaat ekonomi , sosial, budaya bagi masyarakat desa, dan daerah," paparnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Latihan Masyarakat Yogyakarta, Erlin Chaerlinatun mengatakan, pengembangan desa wisata memerlukan manajemen atau pengelolaan yang bersifat mandiri dengan melibatkan tokoh desa dan masyarakat setempat.

Sebab, keterlibatan masyarakat lokal merupakan unsur utama dalam pengelolaan desa wisata yang dapat mengambil bagian aktif dalam semua proses.

"Dengan berperan secara langsung dalam pengembangan desa wisata secara otomatis pada diri masyarakat akan tumbuh rasa memiliki (sense of belonging) terhadap perkembangan pariwisata di desanya sebagai pengelola sekaligus penerima manfaat," jelasnya. (Akhtur Gumilang)

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved