OPINI Suheri Sahputra Rangkuti : Candu Game Online bagi Kaum Muda

Fenomena baru yang menghinggapi hampir sebagian besar usia muda, baik dari tingkat SD sampai mahasiswa dan tidak sedikit pula bapak-bapak muda

OPINI Suheri Sahputra Rangkuti : Candu Game Online bagi Kaum Muda
Bram
Suheri Sahputra Rangkuti 

Oleh Suheri Sahputra Rangkuti

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

BELAKANGAN ini virus game online menjadi fenomena baru yang menghinggapi hampir sebagian besar usia muda, baik dari tingkat SD sampai mahasiswa dan tidak sedikit pula bapak-bapak muda yang jatuh kepelukannya. Berbagai fitur yang ditawarkan seperti Mobile Legend dan PUBG yang bernaung di bawah Tencent (perusahaan game raksasa) berhasil melebarkan sayapnya di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, perusahan ini pun memprediksi bahwa di tahun 2020, jumlah gamer Indonesia akan mencapai 25 juta pengguna. Saat ini diperkirakan sudah mencapai belasan juta. Angka yang cukup tinggi dan mencengangkan ini patut di duga didominasi oleh anak muda.

Baru-baru ini, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh mengharamkan beberapa game online yang memiliki fitur perang-perangan. Meski sebenarnya pengharaman ini dari segi hukum bersifat dilematis. Yang pasti kelahiran hukum ini berangkat dari keresahan melihat efek psikologis yang dimunculkannya, kemudian disangkutpautkan dengan penembakan umat muslim dalam mesjid di Selandia Baru, yang berkebetulan peristiwa brutal itu mirip dengan adegan game online PUBG.

Terlepas dari dimensi hukum di atas, pada umumnya, secara psikologis, manusia ingin terlihat hebat, ingin mengendalikan sesuatu dan ingin punya teman banyak. Salah satu dari banyak hal untuk menyalurkan kebutuahan tersebut secara positif, adalah permainan/game. Artinya, game juga memiliki nilai postif selama dipergunakan secara tepat. Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya, malah kebanyakan para gamer saat ini terlena bahkan candu sehingga game online menjadi surga baru dan bergeser dari manfaat yang semestinya.

Surga baru yang bernama game online tersebut, pada level candu ternyata telah merenggut dunia nyata penggunanya. Mereka telah membangun dunianya sendiri, tidak lagi peka terhadap dunia sekelilingnya. Bahkan bagi mereka meninggalkan game yang sedang berlangsung serasa menjadi dosa besar, karena bisa mengganggu efektivitas permainan. Maka tak jarang, bila banyak di antara mereka berhenti merespons orang lain demi tetap berlanjutnya permainan. Dalam konteks ini, kecanduan game online sudah meruntuhkan eksistensi penggunanya dalam ruang-ruang sosial.

Lebih bahaya lagi, game online sudah merubah pola hidup banyak anak muda. Siang jadi malam dan malam jadi siang. Tidak sedikit sekarang ini siswa yang terlambat masuk kelas, mahasiswa yang terbengkalai skripsi, makalah, dan tugas lainnya hanya karena sibuk dan menghabiskan waktunya untuk game online. Fenomena baru ini membuat masalah bagi para orang tua. Banyak yang berkeluh kesah, tentang anakya yang dulu punya banyak waktu untuk membaca dan mengerjakan tugas-tugasnya, setelah terjangkit candu game oline kebiasaan itu menjadi sirna. Bahkan walau hanya sekedar untuk melihat jadwal pelajarannya besok pagi.

Penyebab awal Candu

Sepintas lalu, kecanduan game online dianggap sebagai penyakit yang datang dari dalam diri seorang pecandu. Tetapi, jika diamati lebih dalam, ada banyak kemungkinan yang bisa jadi pemicu atau penyebab awal dari kecanduan seorang gamer. Menurut Bordieu, seorang sosiolog, kebiasaan-kebiasaan yang terjadi dalam diri seseorang itu dikarenakan adanya lingkungan yang mendukung dan terjadi secara terus-menerus. Dari sini, bisa kita katakan bahwa faktor lingkungan baik secara mikro, yaitu, keluarga maupun, makro, yaitu masyarakat sekitarnya berkemungkinan besar sebagai penyebab utamanya.

Mengikuti argumen di atas, kecanduan yang dirasakan seorang anak bisa jadi diawali rasa sayang orang tua yang berlebihan. Demi rasa sayang, kontrol orang tua berkurang dan mengorbankan kedisiplinannya. Di samping itu, masyarakat di sekitarnya juga mempertontonkan kebiasaan main game bersama, hal ini secara tidak langsung dia merasa berada di alamnya. Pada akhirnya seorang anak merasa tidak bersalah, meskipun ia telah main gamemelampaui batas hingga kecanduan.

Keluar dari Lingkaran Candu

Sekali lagi, main game tidaklah salah. Namun, jika sudah sampai kecanduan seperti telah di kemukakan di atas lambat laun akan merusak mental dan kehidupan sosialnya. Keluar dari lingkaran candu memang tidak mudah tapi bisa diusahakan secara bertahap dan perlahan.

Di antaranya, memberi motivasi agar bangkit dari keterpurukan itu dengan tidak mencacinya. Bagi orang tua, bisa membatasi dengan mengurangi jatah kuota dan pemakaian gadget. Bisa juga dengan memperkenalkan permainan tradisional jika yang candu itu masih anak-anak. Bagi gamer itu sendiri bisa dengan memperbanyak kegiatan-kegian yang bersifat fisik, seperti olah raga dan kesenian yang menggunakan fisik, seperti tari dan lain sebagainya. Memang butuh upaya dan tekad yang kuat untuk terlepas dari ketergantungan itu. Namun selagi ada niat untuk berubah Tuhan pasti memberikan jalan. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved