Remaja Masjid Desak Pemkot Semarang Tutup Prostitusi Berkedok Karaoke di Sekitar MAJT

Ratusan remaja dari tiga masjid besar di Kota Semarang mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk segera menutup usaha karaoke liar

Remaja Masjid Desak Pemkot Semarang Tutup Prostitusi Berkedok Karaoke di Sekitar MAJT
TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI
Aliansi remaja dari tiga masjid besar di Kota Semarang menggelar istighasah dan doa bersama di Pelataran Pasar Barito Relokasi Kawasan Masjid Agung Jawa Tengah dengan membawa poster bertuliskan ajakan beribadah dan penolakan maksiat di sekitar MAJT, Jumat (19/7/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ratusan remaja dari tiga masjid besar di Kota Semarang mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk segera menutup usaha karaoke liar di sekitar Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang diindikasi menjadi tempat prostitusi dan berbagai bentuk kemaksiatan.

Aliansi dari tiga masjid, diantaranya Ikatan Remaja MAJT (Risma JT), Ikatan Remaja Masjid Kauman Semarang (Karisma), dan Ikatan Masjid Baiturrahman (Ikamaba), menggelar istighasah dan doa bersama sebagai bentuk amal maruf untuk mengetuk batin para pelaku yang melakukan maksiat di sekitar MAJT dan para aparat agar dapat menertibkan tempat karaoke liar itu.

Kader Masjid Agung Kauman, Indra Kurniawan berharap pemerintah segera menutup prostitusi yang berkedok karaoke.

Menurutnya, penyegelan yang dilakukan Satpol PP Kota Semarang beberapa hari yang lalu hanya menyegel bangunan karena tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB).

Sedangkan, aktivitas hiburan malam ditempat tersebut masih tetap berlangsung.

"Penertiban yang dilakukan Satpol PP itu bukan terkait prostitusi tapi hanya pelanggaran Perda terkait IMB saja. Sehingga, walaupun sudah disegel tetap saja ada aktivitas," kata Indra, usai melakukan istighasah dan doa bersama.

Disamping melanggar Peraturan Daerah (Perda Nomor 5 tahun 2009 tentang Bangunan Gedung dalam Rangka Pelayanan Publik, menurutnya, bangunan karaoke ilegal di sekitar MAJT juga tidak mendukung rencana pemerintah menjadikan MAJT sebagai little of Mecca atau Mekah kecil.

"Kami akan lihat perkembangannya apakah Pak Wali benar-benar berkomitmen untuk menutup prostitusi atau tidak. Kami akan kawal terus," tandasnya.

Dalam Istighasah dan doa bersama yang digelar di pelataran Pasar Relokasi Barito Kawasan Masjid Agung Jawa Tengah, para remaja dari tiga masjid tersebut juga membawa berbagai spanduk bertuliskan berbagai ungkapan menolak adanya maksiat di sekitar MAJT dan ajakan untuk beribadah.

Koordinator Aksi, Ahsan Fauzi mengatakan, aksi istighosah dan doa bersama ini sebagai bentuk dukungan untuk Pemkot Semarang serta aparat penegak hukum dalam rangka menertibkan dan menutup karaoke liar, prostitusi, dan perjudian di sekitar MAJT.

Selama ini, masyarakat resah dan mengeluhkan adanya karaoke liar di sekitar MAJT.

"Masyarakat sekitar MAJT resah dan mengeluhkan adanya kehiayan yang mengganggu mereka. Oleh karena itu, kami mendesak sepenuhnya kepada pemerintah untuk menutup selamanya," katanya.

Disebutkan, jarak antara MAJT dan tempat karaoke liar tersebut tidak ada satu kilometer. Tentu saja hal ini sangat mengganggu kekusyukan masyarakat dalam beribadah.

Sebelumnya, aliansi dari tiga masjid besar di Kota Semarang itu telah menandatangani petisi diatas kain mori sepanjang 10 meter pada Rabu (17/7/2019).

Petisi tersebut rencananya akan diserahkan kepada Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, sebagai bentuk dukungan dari aliansi tiga masjid kepada pemerintah dalam upaya menutup prostitusi di Kota Semarang. (eyf)

Penulis: Eka Yulianti Fajlin
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved