Degradasi Lingkungan Pengaruhi Penyusutan Mata Air di Banjarnegara

Arief memperkirakan, jumlah desa terdampak kekeringan tahun ini masih sama dengan tahun lalu, sekitar 35 desa

Degradasi Lingkungan Pengaruhi Penyusutan Mata Air di Banjarnegara
Tribunjateng.com/Khoirul Muzaki
distribusi air bersih ke warga terdampak kekeringan Banjarnegara 

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Desa terdampak kekeringan di Kabupaten Banjarnegara kian meluas. Sampai Jumat (19/7) kemarin, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara telah melayani permohonan bantuan air bersih di 14 desa di 6 kecamatan di kabupaten Banjarnegara.

Kepala BPBD Banjarnegara Arief Rahman mengatakan, pihaknya telah mengirim total 62 tangki air bersih atau setara 310 ribu liter untuk didistribusikan ke masyarakat di 14 desa terdampak.

Terakhir, Jumat (19/7), BPBD menyuplai 6 tangki air atau 30 ribu liter air bersih di empat desa, meliputi Desa Kebondalem Kecamatan Bawang untuk 95 Kepala Keluarga (KK) atau 500 jiwa, Desa Petir Kecamatan Purwanegara 123 KK atau 493 jiwa, Desa Kebutuhjurang Kecamatan Pagedongan untuk 121 KK 681 jiwa, dan Desa Lebakwangi Kecamatan Pagedongan untuk 45 KK atau 205 jiwa.

Arief memperkirakan, jumlah desa terdampak kekeringan tahun ini masih sama dengan tahun lalu, sekitar 35 desa.

"Prediksi saya jumlah desa sama dengan tahun lalu, hanya berkurang dusunnya karena sudah ada yang bangun sarana air bersih dan sumur bor,"katanya

Arief menilai, selain karena cekaman kemarau, degradasi lingkungan turut memicu kekeringan di suatu daerah.

Berkurangnya jumlah pohon yang mampu mengikat air di hutan, kebun, hingga pemukiman memengaruhi menyusut sumber mata air.

Arief mencontohkan kondisi semacam itu terjadi di Desa Jalatunda Kecamatan Mandiraja, Desa Petir Kecamatan Purwanegara, dan Desa Kebutuhjurang Kecamatan Pagedongan. Desa-desa itu berada di pegunungan selatan Banjarnegara yang memang dikenal susah air karena kondisi tanah tak mendukung.

Karenanya, untuk mengurangi risiko kekeringan, pihaknya mengalakkan aksi menanam pohon-pohon penyimpan air, terutama di daerah rawan saat musim penghujan tiba. Menurut Arief, ada 17 jenis pohon yang efektif menyimpan air semisal pohon Beringin, Bambu, Pala.

Selain itu, perlu pembangunan embung yang mampu menampung air dan menjadi cadangan air bagi warga saat kemarau.

"Atau bak untuk tampung air ketika hujan,"katanya. (*)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved