Mata Uang Rupiah Catat Posisi Kedua Kenaikan Kurs Terbesar di Asia

Keputusan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan, atau BI 7-day repo rate (BI 7-DRR) disambut positif pelaku pasar.

Mata Uang Rupiah Catat Posisi Kedua Kenaikan Kurs Terbesar di Asia
KONTAN/Cheppy A Muchlis
ILUSTRASI 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Keputusan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan, atau BI 7-day repo rate (BI 7-DRR) disambut positif pelaku pasar. Para analis pun optimistis kurs rupiah masih tetap perkasa di sisa tahun ini.

Saat BI menurunkan BI 7-DRR sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen, rupiah tetap perkasa. Di pasar spot, kurs mata uang Garuda naik 0,16 persen menjadi Rp 13.960 per dollar Amerika Serikat (AS).

Hal itu membuat rupiah menjadi mata uang dengan kenaikan terbesar kedua di Asia. Peringkat pertama diraih won Korea yang naik 0,23 persen setelah Bank of Korea memangkas suku bunga menjadi 1,5%.

Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual mengatakan, langkah BI sesuai dengan ekspektasi pasar. Belum lagi, secara fundamental, ekonomi Indonesia cukup baik.

Hal itu didukung oleh tingkat inflasi yang terjaga, dan pertumbuhan ekonomi yang sesuai dengan ekspektasi para pelaku pasar.
Bahkan, David memperkirakan, peluang BI kembali menurunkan suku bunga hingga 50 bps tetap terbuka. Hal itu tidak akan membuat mata uang Garuda melemah signifikan.

Senada, Ekonom Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro memprediksi penguatan rupiah tetap berlanjut, meski bank sentral memangkas BI7-DRR 75 bps lagi.

"Pemangkasan suku bunga tidak akan memicu dana asing keluar, karena perbedaan suku bunga riil masih cukup tinggi antara obligasi Indonesia dengan negara maju lain," katanya, dalam riset, kemarin.

Sentimen eksternal

Namun, analis pasar uang Bank Mandiri, Reny Eka Putri melihat peluang rupiah melemah dan kembali ke bawah level Rp 14.000 juga terbuka. Apalagi sentimen eksternal masih mengendalikan pergerakan rupiah.

Satu di antaranya sentimen kebijakan The Federal Reserve (The Fed). "Pasar masih mengantisipasi keputusan The Fed yang akan rapat di akhir bulan," ujarnya.

Direktur Garuda Berjangka, Ibrahim mengungkapkan, sentimen penghambat lain juga berasal dari perang dagang dan Brexit yang belum ada titik terang.

Namun, Ibrahim meyakini hingga akhir tahun nanti rupiah masih akan bergerak di kisaran Rp 13.890-Rp 14.200 per dollar AS. Sedangkan David dan Satria melihat dalam jangka panjang, rupiah akan menguat di kisaran Rp 13.500 dan Rp 13.770 per dollar AS. (Kontan/Antonius O/Intan Nirmala S/Anna Suci P)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved