Fokus : Kursi Panas Ketua MPR

Pemilu legislatif dan pemilihan presiden sudah usai. Sejak pertemuan antara presiden terpilih yang juga petahana Joko Widodo

Fokus : Kursi Panas Ketua MPR
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
GALIH Pujo Asmoro wartawan Tribun Jateng

Oleh Galih Pujo Asmoro

Wartawan Tribun Jateng

Pemilu legislatif dan pemilihan presiden sudah usai. Sejak pertemuan antara presiden terpilih yang juga petahana Joko Widodo dengan rivalnya Prabowo Subianto, bisa dikatakan jika pertarungan di pilpres sudah selesai semuanya, atau setidaknya nyaris rampung keseluruhan.

Namun suhu politik di Indonesia, terutama di kalangan elit, belum usai. Kini giliran posisi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menjadi kursi panas yang diperebutkan. Beberapa nama telah berseliweran di media untuk posisi itu. Yang paling gamblang menyatakan keinginan menjadi ketua MPR adalah Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, Muhaimin Iskandar. Saat ini, Cak Imin juga menduduki kursi Wakil Ketua MPR.

Cak Imin mengutarakan hal itu sejak Mei lalu. Pernyataan tersebut dikatakannya saat menanggapi jika kursi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bakal diisi oleh poltisi PDIP Puan Maharani. Kader PDIP otomatis menjadi ketua DPR karena sebagai pemenang pemilu. Ya Mbak Puan ketua DPR, Insya Allah saya Ketua MPR," ujar Cak Imin di Rumah Dinas Wakil Ketua MPR, Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, 18 Mei silam.

Bukan hanya Cak Imin, Golkar, Nasdem, Demokrat hingga Gerindra juga mengaku telah mempersiapkan kader terbaiknya untuk menduduki posisi tersebut. Terbaru adalah pernyataan politisi Gerindra Fary Djemy Francis yang menyebutkan jika partai besutan Prabowo Subianto itu sudah menyiapkan beberapa nama untuk diajukan sebagai Ketua MPR. Satu di antaranya adalah Ahmad Muzani. Alasannya, Muzani merupakan sosok yang bisa diterima semua fraksi. "Bisa diterima" merupakan kunci lantaran pimpinan MPR dipilih berdasarkan paket.

Bagi partai koalisi Jokowi, bukan tidak mungkin bakal menduduki posisi tersebut dengan mudah. Tentunya karena jumlah kursi mereka. Syarat utamanya, jangan saling berebut untuk menjadi orang nomor satu. Namun saat ini, hal itu sepertinya masih jauh panggang dari api.

Demikian juga dengan Partai Gerindra. Arah politik Gerindra yang belum pasti bakal bergabung di pemerintahan atau oposisi bisa jadi nilai tawar tersendiri. Terlebih, Jokowi dan Prabowo disebut-sebut bakal kembali menggelar pertemuan setelah perjumpaan mereka sebelumnya. Tawar menawar di dunia politik tentu adalah hal yang sangat wajar.

Terlebih, politik sangatlah cair. Dalam dunia politik, sekarang kawan bisa jadi lawan demikian juga sebaliknya sangat mungkin terjadi sesuai dengan agenda kepentingannya. Oleh karena itu, kita tidak perlu kaget jika politisi di dua kubu bersebarangan berdebat panas lantas keesokan harinya tertangkap kamera tengah minum kopi berdua. Atau di tingkat pusat tampaknya tak bisa bersatu, namun di pilkada, partai tersebut saling berkoalisi mengusung pasangan calon.

Bangsa ini kian hari makin pintar. Tentu sekarang ini rakyat Indonesia merekam apa yang tengah terjadi. Jangan sampai mereka merasa kecewa lantas apatis dengan politik dan politisi. Jika sudah demikian, minimal, potensi pemilih pragmatis di pemilu yang akan datang bukan tidak mungkin kian banyak. Tentu saja, karena mereka melihat tingkah polah para elit yang berebut kursi di mana lawan jadi kawan ataupun sebaliknya.

Jangan sampai ketika pemilu 2024 mendatang ketika ada calon berkampanye, pemilih bertanya “ada uangnya tidak jika saya pilih Anda?” Untuk para elit yang tengah berebut kursi, mohon berilah pendidikan politik yang baik. Kalaupun keputusan Anda bisa jadi mengecewakan sebagai pendukung, namun hal itu dilakukan semata-mata tulus demi Indonesia sepenuhnya. (*)

Penulis: galih pujo asmoro
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved