Inilah Harapan Pemulung TPA Jatibarang Jelang Proyek PLTSa

Memilah dan memisah sampah biar gampang diubah menjadi rupiah merupakan pekerjaan setiap hari Muhammad Panji (24) di Tempat Pembuangan Akhir

Inilah Harapan Pemulung TPA Jatibarang Jelang Proyek PLTSa
TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI FAJLIN
Instalasi mesin pengolahan sampah menjadi listrik sudah dipasang di TPA Jatibarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Memilah dan memisah sampah biar gampang diubah menjadi rupiah merupakan pekerjaan setiap hari Muhammad Panji (24) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang Kota Semarang.

Sampah plastik adalah rezeki baginya. Bau sampah dan lalat tidak lagi menjadi gangguna baginya. Pundi-pundi uang keluarganya bergantung pada sampah yang datang ke TPA.

Panji tidak sendiri. Dia bersama ayahnya sengaja hijrah dari Kabupaten Grobogan demi kehidupan yang lebih baik.
Setiap harinya mereka bergulat di antara kerumunan lalat dan belatung. Bau busuk bukan lagi sesuatu yang menggoda hidung mereka.

Langkah kakinya menembus tumpukan sampah. Sepatu butut warna hitam setia melindungi kakinya. Pijakan kakinya di sela-sela sampah berhenti di sisi timur TPA lalu dia duduk.

Atap dengan bahan plastik yang dikaitkan dengan bambu didirikan untuk menghalau panas matahari. Di sudut itu, dia menemukan beberapa kantong plastik besar berwarna hitam berisi sampah medis padat yang kebanyakan berbahan plastik. "Ini sampah plastik dari rumah sakit sepertinya," ucap Panji.

Tidak hanya sampah bungkus plastik yang dikumpulkan, tapi juga sampah botol plastik. Setelah terkumpul, selanjutnya dijual ke pengepul. Dari pengepul biasanya dijual ke pabrik khusus pengelolaan plastik untuk diolah menjadi biji plastik. Harga plastik perkilogram tergantung dari bahan atau jenis plastik yang dipakai.

"Kalau sampah bungkus plastik Rp 3.000 perkilogram. Kalau botol plastik Rp 7.000," terangnya.

Setiap dua hari sekali dia menyetorkan hasil yang didapat ke pengepul. Dalam dua hari itu, dia biasa mendapatkan sampah plastik hingga 50 kilogram."Lumayan untuk kebutuhan keluarga," ujar pria berbadan tinggi ini.

Menjadi pemulung bukan kehendaknya. Desakan hidup dan himpitan ekonomi yang memaksanya untuk tidak melanjutkan sekolah, sehingga menjadi pemulung.

Ketika ditanya rencana Pemkot Semarang yang akan membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), Panji berharap hasil memulungnya tidak terganggu. "Kami sih manut (nurut) aja. Yang penting tetap bisa bekerja di sini," ia menambahkan.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved