Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Inilah Harapan Pemulung TPA Jatibarang Jelang Proyek PLTSa

Memilah dan memisah sampah biar gampang diubah menjadi rupiah merupakan pekerjaan setiap hari Muhammad Panji (24) di Tempat Pembuangan Akhir

TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI FAJLIN
Instalasi mesin pengolahan sampah menjadi listrik sudah dipasang di TPA Jatibarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Memilah dan memisah sampah biar gampang diubah menjadi rupiah merupakan pekerjaan setiap hari Muhammad Panji (24) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang Kota Semarang.

Sampah plastik adalah rezeki baginya. Bau sampah dan lalat tidak lagi menjadi gangguna baginya. Pundi-pundi uang keluarganya bergantung pada sampah yang datang ke TPA.

Panji tidak sendiri. Dia bersama ayahnya sengaja hijrah dari Kabupaten Grobogan demi kehidupan yang lebih baik.
Setiap harinya mereka bergulat di antara kerumunan lalat dan belatung. Bau busuk bukan lagi sesuatu yang menggoda hidung mereka.

Langkah kakinya menembus tumpukan sampah. Sepatu butut warna hitam setia melindungi kakinya. Pijakan kakinya di sela-sela sampah berhenti di sisi timur TPA lalu dia duduk.

Atap dengan bahan plastik yang dikaitkan dengan bambu didirikan untuk menghalau panas matahari. Di sudut itu, dia menemukan beberapa kantong plastik besar berwarna hitam berisi sampah medis padat yang kebanyakan berbahan plastik. "Ini sampah plastik dari rumah sakit sepertinya," ucap Panji.

Tidak hanya sampah bungkus plastik yang dikumpulkan, tapi juga sampah botol plastik. Setelah terkumpul, selanjutnya dijual ke pengepul. Dari pengepul biasanya dijual ke pabrik khusus pengelolaan plastik untuk diolah menjadi biji plastik. Harga plastik perkilogram tergantung dari bahan atau jenis plastik yang dipakai.

"Kalau sampah bungkus plastik Rp 3.000 perkilogram. Kalau botol plastik Rp 7.000," terangnya.

Setiap dua hari sekali dia menyetorkan hasil yang didapat ke pengepul. Dalam dua hari itu, dia biasa mendapatkan sampah plastik hingga 50 kilogram."Lumayan untuk kebutuhan keluarga," ujar pria berbadan tinggi ini.

Menjadi pemulung bukan kehendaknya. Desakan hidup dan himpitan ekonomi yang memaksanya untuk tidak melanjutkan sekolah, sehingga menjadi pemulung.

Ketika ditanya rencana Pemkot Semarang yang akan membangun pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), Panji berharap hasil memulungnya tidak terganggu. "Kami sih manut (nurut) aja. Yang penting tetap bisa bekerja di sini," ia menambahkan.

Hal yang sama juga diceritakan Abdul Muiz (45). Sudah belasan tahun dia menetap dan bekerja sebagai pemulung di TPA Jatibarang.

Berbekal kantong plastik yang telah dimodifikasi dan keranjang bambu dia mengambil sampah plastik bersama ratusan pemulung lainnya. Dia harus bersaing dengan pemulung lainnya yang mencari peruntungan di gunungan sampah tersebut.

Untuk mencari nafkah di tanah orang, pria kelahiran Kendal itu harus menyewa kontrakan di rumah petak semi permanen yang berada di dekat TPA. "Saya tidur sama istri di kontrakan, tapi ini istri lagi pulang kampung dulu," imbuhnya.

Ia rela meninggalkan tanah kelahiran untuk mencari uang di TPA. Menurutnya, setiap harinya banyak sampah yang bisa dipungut dari TPA Jatibarang. "Karena kota ya di sini banyak sampah yang bisa dijual. Berbeda dengan TPA dekat rumah sendiri sana," kata Muiz.

Ia sudah mendengar rencana pemkot yang akan mendirikan PLTSa. Sampah baru nantinya akan dimasukkan ke dalam mesin dan dibakar yang selanjutnya panas dari sampah tersebut dijadikan generator atau penggerak pembangkit listrik.

"Yang penting kami tidak dikorbankan. Tetap bisa mendapatkan hasil. Setiap harinya dapat 20 kilogram ya besok kalau (PLTSa) sudah dibangun tetap bisa dapat 20 kilogram, kalau bisa tambah," ujarnya. (tim)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved