Pemkab Rembang Ingin Kembali Kenalkan Gambuhan, Tradisi yang Kini Berevolusi Jadi Tari Gambuh

Maksud dari upacara itu yakni berharap agar Tuhan mengindarkan mara bahaya yang dapat mengganggu jalan pencapaian keinginan atau hajatan.

Pemkab Rembang Ingin Kembali Kenalkan Gambuhan, Tradisi yang Kini Berevolusi Jadi Tari Gambuh
TRIBUN JATENG/RIFQI GOZALI
Alun-Alun Kota Rembang, salah satu pusat keramaian di Kabupaten Rembang. 

TRIBUNJATENG.COM, REMBANG - Bagi masyarakat Rembang mungkin sudah jarang mendengar istilah tradisi Gambuhan.

Sedianya, tradisi ini merupakan warisan budaya turun temurun di Bumi Dampo Awang.

Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Rembang, Puji Purwati mengatakan, di Rembang dahulu bagi warga yang hendak menggelar hajat atau menunaikan keinginan terdapat upacara Gambuhan. 

Di situ, bagi pemilik hajat telah menyediakan nasi tumpeng berikut jajan pasar diarak berkeliling.

Saat diarak, ada iringan gending Jawa.

Setelah selesai, tumpeng tersebut dimakan bersama-sama.

Maksud dari upacara itu yakni berharap agar Tuhan mengindarkan mara bahaya yang dapat mengganggu jalan pencapaian keinginan atau hajatan.

“Intinya pada prosesi ini itu sedekah, bersyukur, dan berdoa agar dalam melaksanakan hajat itu berjalan lancar,” kata Puji.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya kini upacara gambuh berevolusi menjadi tari gambuh.

Tanpa mengubah esensinya, menurut Puji, pada tari gambuh juga terdapat gerakan sarat akan pengusiran energi negatif atau bisa diartikan mengusir mara bahaya.

“Tujuannya adalah setiap akan melakukan kegiatan ada niat hajat harus sedekah, syukuran, membersihkan, dan berdoa,”  jelas Puji.

Demi melestarikan tradisi ini, kata Puji, Pemkab Rembang setiap tahun dalam peringatan ulang tahun selalu digelar upacara serupa seraya mengeluarkan pusaka yang tersimpan di pendopo.

Belilah rokok bercukai ilegal

Pada kesempatan ini, akan digelar pada Jumat (26/7/2019) malam di halaman Pendopo Rembang.

Tidak hanya nuansa budaya, pada kesempatan ini juga disisipi nuansa religi dengan pembacaan untaian doa serta tahlil.

Selain itu demi melengkapinya, juga digelar macapatan. (Rifqi Gozali)

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved