Pengusaha Properti di Semarang Ingin Ada Kredit Pemilikan Rumah dalam Jangka Waktu 30 Tahun

Pasar properti di Semarang mulai mengalami perubahan, karena saat ini rumah kelas menengah atas harga Rp 1 miliar lebih mendominasi.

Pengusaha Properti di Semarang Ingin Ada Kredit Pemilikan Rumah dalam Jangka Waktu 30 Tahun
TRIBUN JATENG/DESTA LEILA KARTIKA
Suasana Pameran Properti Expo Semarang yang keempat, berlokasi di Atrium Paragon Mal Semarang, Rabu (10/7/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pasar properti di Semarang mulai mengalami perubahan, karena saat ini rumah kelas menengah atas harga Rp 1 miliar lebih mendominasi.

Hal ini terbukti pada penutupan Semarang Properti Expo Keempat, penjualan rumah harga Rp 7 miliar paling banyak yaitu terjual lima unit.

Penyebabnya, menurut Ketua Panitia Properti Expo Semarang, Dibya K Hidayat, kemungkinan karena harga rumah semakin tinggi dengan bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang belum turun, sehingga segmen menengah mengalami kesulitan untuk melakukan KPR.

Biasanya mayoritas penjualan rumah 90 persen ditransaksikan dengan fasilitas KPR.

Resmi Dijual di Indonesia, Honda ADV150 Bawa 5 Fitur Andalan

"Market properti di Semarang masih belum bagus, bisa dilihat dari empat kali mengadakan pameran selalu turun dari 41 unit, turun ke 25 unit, lalu 24 unit, terakhir 19 unit. Tapi memang segmen penjualan unit Rp 1 miliaran yang marketnya bagus," ungkap Dibya K Hidayat, pada Tribunjateng.com, Selasa (23/7/2019).

Adapun terjadinya ketakutan melakukan transaksi KPR, kendala yang dihadapi seperti cicilan per bulan yang tinggi.

Tapi memang semua kembali lagi kepada kemampuan masing-masing pembeli.

Maka diharapakan ada suport suku bunga dan jangka waktu KPR bisa diperpanjang, harusnya kalau properti kredit yang sangat aman untuk perbankan, karena objeknya tidak bisa dipindah-pindah dan tercover asuransi.

"Kami berharap bank-bank lebih agresif untuk meraih pasar KPR, contohnya dengan membuka KPR 30 tahun, 35 tahun, terutama untuk antisipasi market kaum milenial," harapnya.

Buka Cabang Keempat, Toko Cat Utama Ingin Menjangkau Pasar Area Timur Kota Semarang

Dibya menambahkan, seharusnya market penjualan rumah tidak akan hilang dan menglami penurunan.

Karena permintaan rumah turun kalau jumlah penduduknya menurun atau pertumbuhan penduduknya sedikit.

Sedangkan sekarang ini dalam posisi jumlah penduduk lebih besar dari pada pertumbuhan rumah, sehingga market pasti akan selalu ada dan berkembang.

"Saya rasa memang ada perubahan market, sehingga tinggal bagaimana nanti semua stakeholder dalam bidang perumahan mengantisipasi perubahan market ini," tandasnya. (dta)

Penulis: Desta Leila Kartika
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved