Net Sell Investor Asing Capai Rp 1,52 Triliun dalam Sepekan

Investor asing terus mencatatkan aksi jual bersih (net sell) di seluruh pasar pasca pengumuman turunnya suku bunga acuan.

Net Sell Investor Asing Capai Rp 1,52 Triliun dalam Sepekan
kontan.co.id
BCA 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Investor asing terus mencatatkan aksi jual bersih (net sell) di seluruh pasar pasca pengumuman turunnya suku bunga acuan. Meski demikian, masih ada sejumlah saham yang menjadi buruan investor asing.

Seperti diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) awal pekan ini dilanda net sell sebesar Rp 246,86 miliar. Sehingga, selama sepekan terakhir net sell asing mencapai Rp 1,52 triliun.

Pada saat bersamaan, investor asing tetap melakukan aksi beli (net buy) atas sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar (big cap) yang juga sekaligus anggota Indeks LQ45.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi favorit investor asing. Net buy di saham ini selama sepekan mencapai Rp 208,86 miliar. Nilai itu menjadikan saham BBCA sebagai yang paling banyak diburu asing, disusul sejumlah saham lain.

Perburuan bahkan masih berlanjut hingga perdagangan awal pekan ini. Pada Senin (22/7), net buy asing di saham BBCA tercatat Rp 65,68 miliar. Sebaliknya, investor asing justru tampak menghindari saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan sejumlah saham big cap lain.

Analis Mirae Asset Sekuritas, Lee Young Jun mengatakan, investor asing menyukai saham BBCA karena fundamentalnya yang menarik. Bahkan, bisa dibilang lebih menarik dibandingkan dengan saham bank big cap lain.

"Pendapatan bunga bersih mereka (BBCA-Red) akan terus tumbuh hingga dua digit, sedangkan bank lain mungkin masih satu digit. Ini karena BBCA mengedepankan dana dari pihak ketiga," ujarnya, Senin (22/7).

Nafan aji, analis Binaartha Sekuritas menilai, investor asing meminati saham BBCA karena perusahaan tergolong rajin membagikan dividen.

Secara umum, sentimen penurunan suku bunga bisa mendorong investor ramai-ramai masuk ke bursa saham, tak terkecuali investor asing. Ketika asing masuk, saham big cap menjadi buruan utama.
Potensi pertumbuhan

Hampir semua saham bank BUKU IV merupakan saham big cap. Namun, ada satu hal yang terlewatkan pelaku pasar.

"Pasar belum memasukkan faktor potensi pertumbuhan laba bersih 20 persen secara tahunan pada 2020," tulis Raphon Prima, analis UOB Kay Hian dalam riset 22 Juli.

Pasalnya, menurut dia, penurunan suku bunga bisa mendorong pendapatan provisi bank atau pre-provision operating profit (PPOP). Diperkirakan, PPOP bank tahun depan bisa tumbuh 17 persen. Kenaikan PPOP itu akan ditranslasikan menjadi pertumbuhan laba bersih 20 persen selama bank mampu menurunkan beban provisi.

"Sekarang, kondisinya berbeda. Bank, kecuali BBCA, mulai mencatatkan penurunan beban provisi dan non-performing loan (NPL) yang stabil," jelasnya.

Dengan kondisi itu, Raphon menjadikan BBNI menjadi satu jagoannya ketimbang BBCA. Ia merekomendasikan buy saham ini dengan target harga Rp 10.600 per saham. Sementara, menurut Lee, saham BMRI, ADHI, INDF, TLKM, dan UNTR bisa menjadi alternatif pilihan. (Kontan/Yasmine Maghfira/Akhmad Suryahadi/DH Forddanta)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved