Pemkot Salatiga Buka Layanan Sedot Tinja Online, Biaya Cuma Rp 40 Ribu per Meterkubik

Upaya meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, Pemkot Salatiga membuka pelayanan jasa pembersihan septic tank kepada warga melalui sistem online.

Pemkot Salatiga Buka Layanan Sedot Tinja Online, Biaya Cuma Rp 40 Ribu per Meterkubik
TRIBUN JATENG/M NAFIUL HARIS
Wali Kota Salatiga Yuliyanto meluncurkan pelayanan jasa pembersihan lumpur tinja online, secara simbolis menempelkan barcode di Rumah Dinas Wali Kota Salatiga, Rabu (24/7/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Upaya meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, Pemkot Salatiga membuka pelayanan jasa pembersihan septic tank kepada warga melalui sistem online.

Wali Kota Salatiga Yuliyanto mengatakan, program layanan sedot tinja online merupakan hasil kerja sama dengan USAID Indonesia dan Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR.

Melalui layanan tersebut diharapkan semakin memudahkan masyarakat warga yang rumahnya sudah tertempel barcode otomatis masuk dalam daftar.

“Selain online, sistemnya jasa layanan sedot tinja ini juga terjadwal. Sehingga masyarakat dapat mengetahui kapan septic tank warga dibersihkan. Apabila sewaktu-waktu warga mendesak membutuhkan layanan tersebut dapat menghubungi di luar jadwal. Artinya jika terjadi kerusakan masyarakat dapat meminta bantuan,” terangnya kepada Tribunjateng.com, di sela launching Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (L2T2) di Rumah Dinas Wali Kota Salatiga, Rabu (24/72019).

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Salatiga Agung Hendratmiko menjelaskan, dalam pelayanan jasa pembersihan septic tank, masyarakat dikenakan tarif minimal Rp 40 ribu per meterkubik dan penambahan biaya transportasi per kilometer sebesar Rp 5 ribu.

Dia menjelaskan, besaran retribusi transportasi tersebut dihitung berdasarkan jarak dari rumah ke tempat pembuangan akhir di Kawasan Ngronggo, Kelurahan Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo.

Sehingga, besaran retribusi transportasi tiap warga pengguna jasa layanan ini tidak sama.

“Tergantung jaraknya. Jika lebih dekat tentunya lebih murah. Besarannya tinggal kalikan saja, panjang jarak kali lima ribu per kilometer," katanya.

Ia menambahkan, DPUPR juga membentuk tim khusus instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT) yang untuk menangani pencemaran air tanah.

Pasalnya, air tinja yang dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun tidak disedot atau dibuang ke IPTL akan mencemari air tanah.

Dampaknya tidak bisa digunakan warga untuk keperluan sehari-hari.

Di luar itu, lanjutnya, untuk menggali potensi pendapatan asli daerah DPUPR menargetkan potensi PAD pelayanan pembersihan lumpur tinja mencapai sekitar Rp 5 miliar per tahun.

Agung berharap, layanan aplikasi yang dibangun dengan sistem online ini dapat memudahkan warga.  

“Kami Dinas PUPR juga akan terus menggalakkan penggantian septic tank biasa menjadi septic tank yang ramah lingkungan. Harapan kami seluruh warga Kota Salatiga bisa beralih kepada septic tank yang aman dan ramah lingkungan,” jelasnya. (M Nafiul Haris)

Penulis: M Nafiul Haris
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved