Najwa Shihab Cecar Kasus Novel Baswedan, Hermawan Sulistyo: Saya Nggak Bisa Ungkap di Sini

Anggota pencari Fakta (TGPF) kasus Novel Baswedan, Hermawan Sulistyo mengaku tidak bisa ungkap temuan soal kasus Novel Baswedan.

Najwa Shihab Cecar Kasus Novel Baswedan, Hermawan Sulistyo: Saya Nggak Bisa Ungkap di Sini
YOUTUBE
Hermawan Sulistyo saat menanggapi kasus Novel Baswedan 

Menurut Hermawan Sulistyo, pihak TGPF telah mempertajam video CCTV yang dimiliki namun resolusi yang sangat kecil sehingga tak bisa melihat nomor polisi kendaraan yang dipakai, terlebih wajah terduga pelaku.

"Bukan pak, di laporan TGPF justru katanya enggak ada sama sekali hasilnya," jelas Arif Maulana.

"Laporannya yang mana?" tanya Hermawan Sulistyo.

"Ada rilis dari TGPF," jawab Arif Maulana.

"Dari 2 ribu halaman yang mana? Jangan berasumsi, kami berdasarkan fakta," tegas Hermawan Sulistyo.

Sontak reaksi Hermawan Sulistyo itu menuai tepuk tangan penonton di Studio Mata Najwa.

Najwa Shihab lantas memberikan kesempatan untuk Hermawan Sulistyo berbicara.

"Apakah temuan komnas HAM soal dugaan abuse of prosedure itu sempat juga diteliti oleh TPF?"

Hermawan Sulistyo lantas mengatakan bahwa tidak bisa memberikan penilaian.

"Saya kan bukan anggota komnas HAM jadi saya nggak bisa ngasih penilaian," ujar Hermawan Sulistyo.

Najwa lantas mencecar dengan pertanyaan.

"Tapi itu kan temuan komnas HAM untuk ditelusuri TPF?" tanya Najwa.

Hermawan Sulistyo lantas mengatakan bahwa TPF sudah melakukan penyelidikan.

"Kalau penulusran iya, penyidiknya ada yang kami periksa, itu resistence juga, kami periksa, jadi jangan salah lho kita tidak menemukan apa-apa,kita periksa, hasil temuan komnas HAM itu betul apa enggak," " ujarnya.

Najwa lantas melempar pertanyaan.

"Hasilnya apa mas Kiki?" tanya Najwa.

Hermawan Sulistyo langsung mengatakan bahwa dirinya tidak bisa ungkapkan hal ini di Mata Najwa.

"Saya nggak bisa ungkap di sini, karena ya kalau bener, kalau salah? itu terdokumentasikan dengan baik," ujar Hermawan Sulistyo.

Diketahui sebelumnya, Tim Gabungan Pencari Fakta ( TGPF) telah mengumumkan sejumlah temuan hasil investigasi kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan.

Tim yang telah bekerja selama 6 bulan tersebut sudah menyerahkan laporan hasil investigasi kepada Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian pada 9 Juli 2019.

Setelah dipelajari Tito, tim mengungkapkan hasilnya kepada publik, dalam sebuah konferensi pers di Mabes Polri, Rabu (17/7/2019).

Tim mengungkapkan perihal zat kimia yang digunakan, hingga adanya dugaan penggunaan kekerasan yang berlebihan oleh Novel sehingga terjadi penyerangan.

Akan tetapi, hasil investigasi TGPF belum juga menemukan titik terang.

Sebab, kekerasan dan teror terhadap Novel Baswedan yang terjadi lebih dari dua tahun lalu ini belum juga diketahui pelaku dan dalang di baliknya.

Saat mengumumkan hasil investigasi, terdapat sejumlah poin penting yang diperlihatkan TGPF. Berikut paparannya:

1. Kejanggalan sebelum kejadian

Penyerangan terhadap Novel Baswedan dilakukan pada 11 April 2017. TGPF kemudian menemukan ada keanehan yang terjadi pada 5 April 2017 dan 10 April 2017.

"Pada 5 April 2017, ada satu orang tidak dikenal yang mendatangi rumah Novel Baswedan," kata anggota TGPF Novel Baswedan, Nurkholis, dalam konferensi pers.

"Pada 10 April 2017 ada dua orang tidak dikenal yang berbeda waktu, yang diduga berhubungan dengan peristiwa penyerangan pada 11 April 2017," ujar dia.

Hasil investigasi TGPF ini berdasarkan reka ulang tempat kejadian perkara dan analisis rekaman kamera CCTV.

TGPF juga mendapatkan bantuan dari Australia Federal Police dalam kasus ini.

2. Zat kimia

Berdasarkan hasil penyelidikan tim, zat kimia yang digunakan untuk menyiram wajah Novel ialah asam sulfat (H2S04).

Menurut Nurkholis, zat tersebut berkadar larut dan tidak pekat sehingga tidak mengakibatkan luka berat permanen pada wajah Novel.

"Dan baju gamis korban tidak mengalami kerusakan dan penyiraman itu tidak mengakibatkan kematian," kata Nurkholis dalam jumpa pers.

3. Niat menyengsarakan

TGPF menyebutkan bahwa penyerangan itu dilakukan tidak dengan maksud membunuh, tapi membuat Novel menderita.

"Ada probabilitas bahwa serangan terhadap wajah korban bukan dimaksudkan untuk membunuh, tapi membuat korban menderita," ujar Nurkholis.

Menurut TGPF, kesimpulan ini berdasarkan zat kimia yang digunakan, yang memang tidak membahayakan jiwa atau menimbulkan luka permanen.

4. Soroti Novel

TGPF menduga bahwa penyerangan yang dialami Novel diduga akibat penggunaan kekuasaan yang berlebihan atau excessive use of power oleh Novel saat menjalankan tugas.

Anggota TGPF, Hendardi, mengatakan bahwa hal itu diduga memicu pihak yang sakit hati terhadap Novel dan melakukan serangan terhadap penyidik KPK tersebut.

"Itu dari pihak Novel, artinya Novel dan petugas KPK seringkali, di dalam pemeriksaan kami terhadap beberapa saksi, menunjukkan penggunaan kekuasaan yang berlebihan," ujar Hendardi ketika dihubungi Kompas.com, Rabu.

"Yang mengakibatkan, makanya kami konklusinya adalah ini merupakan hal yang bisa menyebabkan orang sakit hati, atau dengan sakit hati, sehingga dia melakukan sesuatu untuk memberi pelajaran atau juga untuk membalas sakit hatinya itu," kata dia lagi.

5. Enam kasus high profile

Menurut TGPF, terdapat enam kasus high profile dalam penanganan Novel yang diduga bisa menimbulkan serangan balik.

Kasus high profile itu terdiri dari kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP); kasus mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar; kasus Mantan Sekjen MA, Nurhadi; kasus korupsi mantan Bupati Buol, Amran Batalipu; dan kasus korupsi Wisma Atlet.

Sementara itu, satu kasus lainnya tidak ditangani Novel sebagai penyidik KPK tetapi tidak menutup kemungkinan adanya keterkaitan dengan penyerangan terhadap Novel.

Kasus yang dimaksud yakni penembakan pelaku pencurian sarang burung walet di Bengkulu pada 2004.

Novel ditetapkan sebagai tersangka dugaan penganiayaan terhadap pencuri sarang burung walet saat ia masih bertugas di Polri.

TGPF pun merekomendasikan Kapolri untuk melakukan pendalaman terhadap sekurang-kurangnya enam kasus high profile tersebut.

"TGPF meyakini kasus tersebut berpotensi menimbulkan serangan balik atau balas dendam karena adanya dugaan penggunaan kewenangan berlebihan," ujar Nurkholis.

6. Polri bentuk tim teknis lapangan

Menindaklanjuti laporan tersebut, Kapolri akan membentuk tim teknis lapangan, masih dengan tugas yang sama, yaitu mengungkap kasus tersebut.

Menurut Kepala Divisi Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal, tim teknis lapangan ini akan bekerja paling lambat dalam enam bulan dan bisa diperpanjang masa kerjanya.

Tim ini akan dipimpin Kepala Bareskrim Polri Komisaris Jenderal Idham Azis.

"Kalau dalam satu bulan setelah konpres ini bisa mengungkap, Alhamdulillah. Ini tim terbaik yang dipimpin Pak Kabareskrim," kata Iqbal dalam kesempatan yang sama.

Anggota tim akan dipilih langsung oleh Idham. Tim teknis akan melibatkan anggota dengan berbagai kemampuan, misalnya tim interogator, surveillance, Inafis, hingga Densus 88 Antiteror. (*)

Identitas Korban Truk Tabrak Puskesmas Mojosongo Boyolali, Ternyata Bidan dan Anaknya

Tragis, Pergoki Suami dan Selingkuhan Berduaan di Dalam Mobil, D Malah Dihajar oleh Pelakor

Video Detik-detik CCTV, Kecelakaan Mobil Kadispora Kota Semarang : Sopir Diduga Alami Microsleep

Komandan Tim TNI Kopassus Sempat Sandiwara Bohong Jelang Misi Berbahaya, Ternyata Ada Tujuan Mulia

Penulis: Wahyu Ardianti Woro Seto
Editor: abduh imanulhaq
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved