Waduk Lalung Karanganyar tak Melayani Irigasi Sejak Seminggu Lalu

Koordinator Bendungan Waduk Lalung, Agus Paryanto menyampaikan, 2 titik di dinding waduk sebelah barat mengalami longsor

Waduk Lalung Karanganyar tak Melayani Irigasi Sejak Seminggu Lalu
Tribunjateng.com/Agus Iswadi
Petugas operasional Waduk Lalung sedang melakukan pemeliharaan dinding waduk. 

TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Waduk Lalung Karanganyar yang berada di Kelurahan Lalung Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar, tidak melayani irigasi sejak seminggu yang lalu.

Waduk Lalung yang dibangun pada 1940 dan selesai pada 1943 itu mengairi lahan persawahan di sebagian wilayah Kecamatan Jaten serta Tasikmadu yang berada di Kabupaten Karanganyar dan Kecamatan Mojolaban yang berada di Kabupaten Sukoharjo.

Koordinator Bendungan Waduk Lalung, Agus Paryanto menyampaikan, 2 titik di dinding waduk sebelah barat mengalami longsor. Titik longsong berada di sebelah selatan dan utara pintu air. "Itu terjadi sejak 2 tahun lalu. Kami sudah melaporkan ke pusat Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSB). Longsong terjadi karena tanah labil," katanya kepada Tribunjateng.com, Kamis (25/7/2019).

Waduk Lalung dapat menampung volume air dalam kondisi normal sekitar 4,40 juta meter kubik. Agus mengaku hanya menampung volume air sekitar 2 juta meter kubik sejak 2 tahun lalu.

"Itu karena ada dua titik dinding waduk mengalami longsong. Saat ini volume air sekitar 700 ribu meter kubik. Seminggu lalu sudah tidak melayani irigasi (pintu air ditutup). Karena waduk tidak boleh kering. Itu juga untuk membasahi dinding." terang Agus.

Ia menambahkan, apabila waduk tidak ada air sama sekali, kondisi tanah akan kering dan retak. Jika terjadi hujan itu akan mengakibatkan dinding waduk longsor karena tanah tidak stabil.

Agus menuturkan, elevasi muka air saat ini 144,95 meter kubik, sedangkan dalam kondisi normal serta volume penuh sekitar 152,00 meter kubik. "Dalam melakukan irigasi menggunakan aturan pola operasi waduk, jadi tidak asal membuka pintu air," tuturnya.

Adapun suplai air di Waduk Lalung berasal dari air tadah hujan dan aliran DI Jetu.

Petani asal Desa Suruhkalang Kecamatan Jaten, Sarimin (68) mengatakan, ia menanam padi di lahan miliknya seluas 3.000 meter persegi. Saat ini usia tanamanya baru berumur 70 hari. Ia mengairi sawahnya menggunakan air sumur bor terdekat. " Sejak seminggu lalu sudah tidak mendapat pasokan air dari saluran irigasi," ungkapnya.

Ia mengaku dalam sekali mengairi sawah menghabiskan sebesar Rp 200 ribu. "Sejak awal tanam mengairi sawah dengan air sumur bor. Nanti bagi hasil panen satu banding tiga," papar Sarimin (Ais)

Penulis: Agus Iswadi
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved