Opini Aji Sofanudin: Pengarusutamaan Inovasi

Akhirnya setelah belasan tahun ditunggu, DPR RI mengesahkan Rancangan Undang-undang (RUU) Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (16/7/19)

Opini Aji Sofanudin: Pengarusutamaan Inovasi
tribunjateng/bram
Opini ditulis oleh Dr Aji Sofanudin, M.Si/Peneliti pada Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang 

Oleh  Dr Aji Sofanudin, MSi
Peneliti Madya (Senior Researcher) pada Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

TRIBUNJATENG.COM -- Akhirnya setelah belasan tahun ditunggu, DPR RI mengesahkan Rancangan Undang-undang (RUU) Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (16/7/19). Undang-undang ini mengganti undang-undang sebelumnya yakni UU Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Salah satu implikasi UU ini adalah akan dibentuk Badan Riset dan Inovasi Nasional yang akan menaungi seluruh penelitian di Kementerian/Lembaga.

Hal ini sejalan dengan janji kampanye Jokowi-Amin yang akan membentuk Badan Riset Nasional (BRN).

Lembaga ini akan menyelesaikan berbagai problem penelitian terutama integrasi antarlembaga dan mencegah tumpang tindih riset yang sama.

Badan Riset Nasional merupakan salah satu janji kampanye Jokowi-Amin yang mendapatkan legitimasi dari DPR melalui disahkannya RUU Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Menurut Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi, Mohamad Nasir, Badan Riset dan Inovasi Nasional ini diharapkan sudah terbentuk pada tahun 2020.

Lembaga ini akan menaungi lembaga riset yang ada seperti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), dan lembaga penelitian lain di bawah Kementerian/Lembaga (Kompas, 17/7/19).

Pada Pasal 48 ayat 1 UU Sisnas Iptek, untuk menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian, penerapan, serta invensi dan inovasi terintegrasi dibentuk Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Selain itu, dalam Undang-undang ini juga diatur masa pensiun peneliti. Jika merujuk aturan ASN, peneliti pensiun pada usia 58-60 tahun. Dengan UU ini, Pasal 53 (1) peneliti madya bisa pensiun saat berusia 65 tahun, sedangkan peneliti utama pensiun di usia 70 tahun.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved