Destana dan Siaga Bencana
Dengan polosnya, Iqbal, siswa kelas 6 SD Nampurejo, Purworejo mempraktikkan kepada teman-temannya tentang cara menyelamatkan diri jika terjadi gempa.
Penulis: muslimah | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Muslimah
Wartawan Tribun Jateng
Dengan polosnya, Iqbal, siswa kelas 6 SD Nampurejo, Purworejo mempraktikkan kepada teman-temannya tentang cara menyelamatkan diri jika terjadi gempa.
"Pertama adalah menunduk lalu mencari tempat berlindung seperti di bawah meja, lalu menangis," ujarnya. Menurut Iqbal, menangis diperlukan agar terdengar orang lain, dalam hal ini bala bantuan yang datang.
Sepenggal cerita ini terjadi saat Ekspedisi Destana Tsunami dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tiba di Kabupaten Purworejo, Senin (29/7). Tim ekspedisi langsung melakukan sosialisasi ke beberapa SD yang rawan terkena bencana tsunami di Kabupaten Purworejo.
Destana merupakan singkatan dari Desa Tangguh Bencana. Ekspedisi Destana dilaksanakan dengan harapan masyarakat lebih waspada terhadap segala kemungkinan yang terjadi akibat gempa maupun tsunami, terlebih di daerah yang memang rawan dan berpotensi bencana alam.
Dikutip dari situs resmi BNPB, tahun 2019 ini Ekspedisi Destana Tsunami akan dilakukan pada tanggal 12 Juli sampai dengan 17 Agustus 2019 di 584 desa rawan tsunami di 24 kabupaten/kota dan 5 provinsi sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa.
Di Jateng, setelah Purworejo, selanjutnya tim ekspedisi akan bergeser ke Kabupaten Kebumen, yaitu pada 30-31 Juli 2019 dan berakhir di
Kabupaten Cilacap yaitu 1 dan 2 Agustus 2019. Desa rawan bencana di Kabupaten Purworejo ada 24 desa, Kabupaten Kebumen 32 desa, dan yang terbanyak adalah di Kabupaten Cilacap yaitu 55 desa.
Seperti diketahui, dalam beberapa hari terakhir, masyarakat terutama yang tinggal di pesisir pantai dibuat resah karena kabar adanya potensi gempa 8,8
Skala Richter (SR) dan tsunami dahsyat setinggi 20 meter di Pantai selatan Jawa khususnya selatan DIY, Cilacap hingga Jawa Timur.
Pakar Tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko mengatakan, prediksi gelombang tsunami tersebut diakibatkan oleh adanya segmen-segmen megathrust di sepanjang selatan Jawa.
“Ada segmen-segmen megathrust di sepanjang selatan Jawa hingga ke Sumba di sisi timur dan di selatan Selat Sunda. Akibatnya, ada potensi gempa megathrust dengan magnitudo 8,5 hingga 8,8,” terang Widjo Kongko.
Kita tentu menyambut baik Ekspedisi Destana BNPB. Tapi sebenarnya bukan hanya karena ancaman megathrust, pelatihan mitigasi perlu dilakukan. Seperti diketahui, Indonesia terletak di Cincin Api Pasifik atau Lingkaran Api Pasifik ( Ring of Fire) . Daerah ini juga sering disebut sebagai sabuk gempa Pasifik. Sekitar 90 persen gempa bumi yang terjadi dan 81 persen dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang Cincin Api ini.
Untuk meminimalisir dampak bencana, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membangun budaya sadar bencana. Masyarakat seharusnya sudah mulai membudayakan prilaku sadar bencana. Memperbanyak dan merutinkan latihan-latihan penyelamatan yang dilakukan jika terjadi gempabumi atau bencana lain terjadi.
Setidaknya, kisah heroik bocah 5 tahun ini bisa jadi pembelajaran. Jayden Espinoza berjasa menyelamatkan 13 orang dari kebakaran yang melanda sebuah rumah di Chicago akhir pekan lalu.
Bocah itu dengan sigap berteriak membangunkan bibinya dan semua orang yang tengah terlelap di kamar mereka di lantai dua gedung apartemen saat melihat asap. Dia memandu mereka agar merangkak dan terus bergerak.Menurut ibundanya, Jayden pernah mendapatkan pelatihan simulasi kebakaran di sekolahnya, sehingga sedikit banyak tahu tentang cara menyelamatkan diri dari gedung yang terbakar. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/muslimah-redaktur-tribun-jateng_20170920_064857.jpg)