Korban Rentenir Online di Solo Bertambah, SM Harus Bayar hingga 1.500%

Korban pinjaman berbasis online atau financial technology (fintech) di Solo terus bertambah, seiring dengan dibukanya pos pengaduan

Korban Rentenir Online di Solo Bertambah, SM Harus Bayar hingga 1.500%
Kontan/Muradi
ILUSTRASI : Seorang wanita asal Solo viral gara-gara iklan palsu yang menjanjikan rela digilir demi lunasi utang di Fintech. 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO -- Korban pinjaman berbasis online atau financial technology (fintech) di Solo terus bertambah, seiring dengan dibukanya pos pengaduan yang dilakukan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Soloraya.

Dari 14 laporan yang masuk sejak Sabtu (27/7), ada tujuh korban pinjaman online yang telah ditangani LBH Soloraya. Diduga kuat, perusahaan fintech yang memberikan pinjaman kepada korban adalah ilegal. Sebab, bunga yang diberikan para peminjam cukup besar.

Bahkan, ada korban yang ditangani LBH Soloraya yang menunggak membayar hingga dua bulan dan dendanya mencapai puluhan juta rupiah.

Hal itu disampaikan perwakilan LBH Soloraya, Made Ridha, saat dikonfirmasi Kompas.com via telepon, di Solo, Senin (29/7). Menurut dia, korban pinjaman online yang menunggak membayar hingga dua bulan itu adalah SM, warga Solo.

Korban SM meminjam uang melalui berbagai aplikasi online sebesar Rp 5 juta untuk keperluan modal usaha. Karena tidak memiliki pekerjaan tetap, SM menunggak membayar pinjaman hingga dua bulan.

"Korban (SM) ini pinjam Rp 5 juta dalam dua bulan, karena kondisinya memang benar-benar tidak ada kerjaan. Dia pinjam uang sebenarnya ingin buat modal usaha. Karena polosnya, itu dari Rp 5 juta yang dipinjam dari sekian aplikasi dalam kurun waktu dua bulan jadi Rp 75 juta. Dari mulai denda, biaya perpanjangan tenor, dan bunga," jelasnya.

Dengan jumlah itu, korban tercatat harus membayar utang menjadi 15 kali lipat dari pinjaman yang diterima, atau mencapai 1.500 persen.

Made menuturkan, korban pinjaman online lain yang ditangani mengalami nasib yang tak jauh berbeda dengan korban SM. Mereka mendapatkan teror dari oknun bisnis pinjaman online karena telat membayar pinjaman tersebut.

"Dari tujuh korban yang kami tangani, ada tiga yang benar-benar kooperatif melanjutkan kasus yang dialami, yakni YI, SM, dan AZ," paparnya.

Memroses

Adapun, Satreskrim Polresta Solo telah memroses kasus itu, dengan memanggil korban pencemaran nama baik perusahaan fintech Incash, yaitu YI, pada Senin (29/7).

YI merupakan korban pencemaran nama baik berupa iklan poster berisi promosi seks komersial yang mengatasnamakan dirinya.

YI datang didampingi kuasa hukumnya, Koordinator LBH Soloraya, I Gede Sukadewa Putra. "Kami bawa barang bukti tambahan. Ada skrinsut percakapan dengan si oknum, lalu ada rekaman suara saat oknum menagih, dan 30 nomor telepon yang digunakan si oknum untuk meneror klien kami," papar Sukadewa.

Dari 30 nomor telepon itu, dia menambahkan, akan dipilah-pilah tim penyidik menjadi 10 nomor saja. Ada dua nomor luar negeri yang dilaporkan, yaitu berkode negara Malaysia dan China.

"Klien kami tiap hari ditelepon pakai nomor yang berbeda-beda. Saat dijawab, obrolannya selalu bernada ancaman, makian, dan sebagainya," jelasnya. (Kompas.com/dna)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved