Pasien Rehabilitasi Narkoba Jangan Menyendiri

Markus menjelaskan konsep penyembuhan yang diusung oleh tempat rehabilitasi penderita narkotika ini berbasis kerohananian.

Pasien Rehabilitasi Narkoba Jangan Menyendiri
ISTIMEWA
Barang bukti yang diamankan dari Kedua tersangka pengedar narkoba asal Dukuh Ngrawoh, Desa Pilangsari, Kecamatan Gesi 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ada kalanya pelaku penyalahgunaan narkotika (bandar) diproses hingga pengadilan dan divonis. Namun tidak sedikit pelaku tidak dipenjara tetapi wajib menjalani rehabilitasi, atau bahkan harus menjalani rehabilitasi tanpa diproses di pengadilan, tergantung dari beberapa hal, satu di antaranya batasan barang bukti saat penangkapan.

Merujuk pada UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Pasal 54 menyatakan bahwa pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan sosial. Rehabilitasi medis yakni terkait pengobatan dan pemulihan kesehatan. Sedangkan rehabilitasi sosial terkait pemulihan sosial dan mental pecandu narkoba. Perlu diketahui bahwa dari 250 ribu narapidana di Indonesia, sekitar 50 persen adalah kasus narkoba.

Seorang mentor Rumah Damai, Markus menjelaskan konsep penyembuhan yang diusung oleh tempat rehabilitasi penderita narkotika ini berbasis kerohananian. Para siswa mendapat terapi pengobatan selama minimal satu tahun. Rehabilitasi Rumah Damai beridiri sejak 1998. Saat ini jumlah siswa yang menghuni ada 30 siswa dan dibimbing oleh empat mentor.

Di Rumah Damai para siswa dibedakan dalam dua kategori, yaitu yang mengalami gangguan depresi dan tidak. Gangguan depresi ini bisa muncul akibat penggunaan narkoba dalam jangka waktu lama atau mungkin disebabkan karena latar belakang pengalaman hidup yang tidak enak atau gangguan syaraf.

Sejauh ini hampir 90 persen siswa masuk diakibatkan oleh pengaruh narkotika jenis sabu-sabu dan sisanya yang lain seperti heroin, ekstasi, putau serta sebagainya. Sabu-sabu diakuinya sekarang ini memang paling sering dipilih karena trend.

Penggunaan sabu-sabu bisa mengakibatkan penggunanya lebih berenergi karena pengaruh dopamin. Berbeda dibanding putau yang justru membuat penggunanya merasa rileks serta tenang. Markus juga memastikan semua jenis narkotika bisa mengakibatkan penggunanya kecanduan kurang lebih setelah tiga atau empat kali pemakaian secara terus menerus.

Terkait dengan keberhasilan, menurut Markus hal tersebut tergantung individunya masing-masing. Jika siswa setelah tidak lagi berada di rehabilitasi bisa menjalankan rutinitas seperti yang diajarkan, bisa sembuh.

"Selain itu, keluarga memiliki peran penting supaya siswa tidak lagi terjerumus menggunakan narkotika. Mereka harus mendapat tempat di sisi keluarga serta lingkungan yang sehat dan kemauan dari dalam diri untuk tidak lagi menggunakan. Itu kenapa di sini menekankan pada kerohanian karena hal tersebut merupakan pondasi dasar," ujarnya.

Setiap orang yang tertangkap petugas bisa mengajukan rehabilitasi dibanding dipenjara asalkan batasan membawa barang bukti tidak lebih dari 1,0 gram. Selain itu juga keberhasilan pengacara memenangkan proses persidangan.

Jonathan Aoron, Pembina Rumah Damai Semarang mengatakan, pasien tidak boleh menyendiri tapi harus membaur dengan sesama penghuni. Selain itu, mereka harus mengikuti kegiatan yang telah disusun pengelola.

"Semakin banyak kegiatan semakin bagus, tidak boleh menyendiri supaya meminilasir rasa kecanduan," ujarnya.
Penanganan rehabilitasi sekitar satu tahun, terbagi dalam beberapa fase. Fase pertama 0-3 bulan masa orientasi tubuh dari ketergantungan narkoba.

Selanjutnya masa 3-6 bulan pasien mulai tahu cara mendisiplinkan diri dan bisa mengikuti kegiatan. Kemudian fase 6-9 bulan pasien dipercaya membantu penderita lain, seperti memberikan semangat agar tidak menyerah dari ketergantungan obat. Setelah itu, fase 9-12 bulan mereka mulai boleh beraktivitas di luar pondok. Setelah setahun pasien boleh keluar dari rehabilitasi. (tim)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved