Buruh Tani Kritik Wacana Penghapusan 508 Hektar Sawah di Kota Pekalongan

Ahmad merupakan satu di antara ratusan buruh tani, yang menjadikan sawah di sekitar Interchange Setono Jalan Tol Trans Jawa sebgai mata pencaharian.

Buruh Tani Kritik Wacana Penghapusan 508 Hektar Sawah di Kota Pekalongan
Tribun Jateng/ Budi Susanto
Petani sedang merawat tanaman padi di sawah sekitar Interchange Setono Jalan Tol Trans Jawa Kota Pekalongan, Kamis (1/8/2019).  

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Budi Susanto

TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - “Wong cilik panggonane susah, opo maneh petani gurem koyok aku iki (Orang kecil tempatnya susah, apa lagi buruh tani seperti saya ini),” ucap Ahmad Dalari (60) buruh tani asal Sokoduwet, Pekalongan Selatan, menanggapi wacana penghapusan 508 hektar areal persawahan dari Pemkot Pekalongan.

Ahmad merupakan satu di antara ratusan buruh tani, yang menjadikan sawah di sekitar Interchange Setono Jalan Tol Trans Jawa sebgai mata pencaharian.

Di mana lahan sawah yang digarap Ahmad bersama buruh tani lainnya, menjadi bidikan Pemkot untuk pengembangan investasi.

“Ya kalau sawah di sekitar sini dihilangkan kami bisa apa, mau protes juga tidak akan didengarkan oleh pemerintah,” paparnya, Kamis (1/8/2019).

Dilanjutkannya, Ahmad sudah 25 tahun lebih bekerja sebagai buruh tani dan menggarap sawah di sekitar Interchange Setono.

“Tidak hanya saya ada ratusan buruh tani di sini, kami tetap bertahan karena hanya bisa menjadi buruh. Dari upah Rp 75 rupiah, hingga kini Rp 65 ribu perhari kami terima. Namun kalau sawah dihilangkan, pasti sumber rezeki kami juga hilang,” tuturnya.

Diketahui, Pemkot Pekalongan mengusulkan ke Pemerintahan Pusat untuk menghapuskan 508 hektar sawah.

Hal tersebut dilakukan karena keterbatasan lahan untuk pengembangan investasi.

Pemkot pun membidik areal persawahan sepanjang Interchange Setono, karena lokasi tersebut dirasa paling strategis.

Selain Ahmad, Joko Susilo (55) buruh tani lainnya, mengaku bingung dengan wacana yang diusulkan Pemkot.

“Setiap tahun luasan sawah semakin berkurang, dulu sebelum ada Interchange Setono sawah di sekitar Sokoduwet sangat luas. Namun kini berubah menjadi perumahan serta jalan tembus ke Jalan Tol Trans Jawa,” imbuhnya.

Ditambahkannya, kebijkan penghapusan areal persawahan, harusnya juga memperhatikan nasib buruh tani.

“Padahal setiap kali masa tanam dan panen ada ratusan orang yang bekerja di sawah, belum lagi proses perawatannya. Kami sadar kami orang kecil yang tidak punya lahan. Tapi kami juga warga Kota Pekalongan, menurut kami slogan yang mengutamakan kepentingan rakyat kecil sudah tidak ada. Karena pemerintah pun kini memihak ke orang yang memiliki modal,” tambahnya.(*)

Penulis: budi susanto
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved