Ditarget Ekonomi Tumbuh 7 Persen, Neraca Perdagangan Jateng Malah Kembali Defisit

Meski sempat surplus pada Mei 2019 lalu, neraca perdagangan Jateng untuk sektor non migas kembali defisit pada Juni 2019.

Ditarget Ekonomi Tumbuh 7 Persen, Neraca Perdagangan Jateng Malah Kembali Defisit
Tribunjateng.com/Desta Leila Kartika
Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, Sentot Bangun Widoyono, saat melakukan sesi wawancara dengan rekan media, berlokasi di Aula lantai 5 BPS Provinsi Jateng, jl. Pahlawan Semarang, Rabu (6/2/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Meski sempat surplus pada Mei 2019 lalu, neraca perdagangan Jateng untuk sektor non migas kembali defisit pada Juni 2019.

Pada pertengahan tahun itu ekspor barang di luar minyak dan gas itu bahkan turun 36,15 persen dibanding bulan sebelumnya.

Secara riil penurunan terjadi dari 775,42 juta dolar AS ke angka 495,11 juta.

Data itu dipaparkan Kepala BPS Jateng, Sentot Bangun Widoyono dalam jumpa pers terkait perkembangan ekspor Jateng.

Sementara itu impor non migas pada bulan yang sama mencapai 497,21.

Dengan begitu Jateng mengalami defisit untuk sebesar 2,10 juta dolar AS pada Juni 2019.

"Ya meski hanya dua juta, namun itu namanya tetap defisit, ini harus menjadi perhatian setiap OPD di Jateng," terang Sentot.

Hal itu karena pemerintah pusat berharap provinsi di tengah pulau Jawa itu bisa mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar tujuh persen pada akhir tahun nanti.

Dan sektor non migas diharapkan menjadi andalan karena sempat terpantau surplus pada Mei 2019 dan dianggap mempunyai potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Salah satu penyumbang pertumbuhan ekonomi adalah ekspor. Impor adalah indaktor penghambatnya. Jadi jika kondisinya masih tinggi impor maka capaian pertumbuhan ekonomi tujuh persen akan semakin sulit," terang Sentot lebih lanjut.

Ia memaparkan penurunan ekspor di sektor non migas hampir terjadi di seluruh komoditas. Paling tinggi adalah dari barang perabot dan penerangan rumah yang turun sampai 61 persen atau 43 juta dolar.

Sementara itu sektor tekstil yang biasanya menjadi andalan ekspor jateng juga mengalami penurunan sebesar 28 persen atau 51,72 juta dolar AS.

"Semoga saja penurunan-penurunan ini tidak berarti permintaan yang menurun dari luar negeri, jadi lebih mudah kita pacu lagi kedepannya," harap Sentot.

Ia menyebut indikator lain untuk mengukur pertumbuhan ekonomi selain neraca perdagangan adalah investasi. Jika keduanya bisa tumbuh bersama-sama maka target tujuh persen akan lebih mudah tercapai.

Sementara itu baik sektor migas dan non migas neraca perdagangan di jateng masih defisit sekitar 313,63 juta dolar AS.(*)

Penulis: rival al-manaf
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved