Sektor Produktif Jadi Incaran, Kredit Macet Fintech Meningkat

Pada Juni, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat fintech berhasil menyalurkan pinjaman hingga Rp 44,81 triliun.

Sektor Produktif Jadi Incaran, Kredit Macet Fintech Meningkat
ISTIMEWA
ilustrasi pinjaman online 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Penyaluran pinjaman perusahaan financial technology (fintech) lending terus bergulir. Pada Juni, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat fintech berhasil menyalurkan pinjaman hingga Rp 44,81 triliun.

Jumlah itu tercatat mengalami kenaikan dari bulan sebelumnya sebesar Rp 41,04 triliun. Sayang, di saat kenaikan pinjaman itu, rasio pinjaman bermasalah atau non-perfroming loan (NPL) fintech juga semakin meninggi.

Pada Juni, NPL mencapai 1,75 persen, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,57 persen. Jika dibandingkan dengan akhir 2018 lalu, NPL fintech juga semakin naik. Dalam industri fintech, kriteria NPL yang dipakai adalah rasio pinjaman macet di atas 90 hari.

Kepala Bidang Kelembagaan dan Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Tumbur Pardede menjelaskan kenaikan tingkat NPL fintech itu disebabkan penyesuaian scoring engine di beberapa platform lending.

Ke depan, ia masih meyakini, NPL fintech akan terus melorot hingga akhir tahun. Satu cara menekan NPL adalah fintech akan lebih banyak menyasar kredit produktif.

Tumbur menjelaskan, mitigasi risiko di bisnis produktif lebih terukur dari sisi proses bisnis, meski dari sisi proses lebih lambat dibandingkan dengan penyaluran ke kredit konsumtif.

“Tidak lama lagi Pusat Data Fintech Lending (Pusdafil) juga akan resmi beroperasi. Hal ini sangat membantu fintech lending,” ungkapnya.

Satu pemain fintech, PT Digital Alpha Indonesia atau UangTeman hingga Selasa (30/7) mencatat tingkat NPL di angka 4,24 persen, atau dengan tingkat keberhasilan pengembalian pinjaman (TKB90) UangTeman ada di angka 95,76 persen.

"Sampai akhir tahun, kami menargetkan angka TKB90 ada di level 98 persen," papar SVP Corporate Affairs UangTeman, Adrian Dosiwoda.

Geber pembiayaan

Di sisa tahun ini, fintech akan tetap menggeber pembiayaan. Sebut saja Akseleran yang menargetkan pembiayaan kepada pelaku UKM sebesar Rp 1 triliun di tahun ini.

Untuk memenuhi target itu, Akseleran menggandeng PT Mandiri Tunas Finance (MTF) sebagai institusi lender.
“Kami harapkan kontribusi pembiayaan dari para institusi lender kami dapat mencapai hingga 30 persen di akhir tahun, dan selebihnya berasal dari ritel atau perorangan,” jelas CEO dan Co-Founder Akseleran, Ivan Tambunan.

Danamart juga menyasar pasar kredit UMKM. Tekfin P2P lending itu telah menyiapkan kucuran pinjaman di sektor perkebunan, pertambangan, dan sektor lain pelaku UMKM di Riau dan Sumatera Utara.

Danamart telah menyalurkan pembiayaan lebih dari Rp 40 miliar. "Tekfin dapat menjadi peluang pelaku UMKM mendapat pinjaman modal kerja," kata CEO Danamart Patrick Gunadi. (Kontan/Agustinus Respati)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved