Sudarmini, Istri Anggota ISIS Yang Tewas Dianiaya di Kamp Pengungsian Diduga Berasal dari Indonesia

Pemerintah Indonesia kini tengah menyelidiki laporan tentang seorang wanita yang sedang hamil yang bergabung dengan ISIS dan dikabarkan meninggal.

Sudarmini, Istri Anggota ISIS Yang Tewas Dianiaya di Kamp Pengungsian Diduga Berasal dari Indonesia
AFP/Delil Souleiman
Anggota ISIS berserta istri dan anak-anak mereka keluar dari desa Baghouz di provinsi Deir Ezzor, Suriah timur, Kamis (14/3/2019). 

TRIBUNJATENG.COM - Pemerintah Indonesia kini tengah menyelidiki laporan tentang seorang wanita yang sedang hamil yang bergabung dengan ISIS dan dikabarkan meninggal.

Wanita hamil tersebut diduga disiksa sampai tewas di sebuah kamp pengungsi di Suriah.

Melansir dari channelnewsasia.com (1/8/2019), Kantor Berita Kurdi Hawar melaporkan bahwa wanita bernama Sodermini, telah dipukuli hingga meninggal.

Sodermini yang diyakini hamil enam bulan, dipukuli di kamp al-Hol, yang merupakan rumah bagi ribuan pengungsi.

Jenazahnya ditemukan di sebuah tenda dan kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bulan Sabit Merah Kurdi.

Menurut laporan ditemukan luka memar di tubuh wanita tersebut.

Sodermini disebut sebagai salah satu tentara wanita bayaran, berusia 30 tahun dan memiliki 3 anak.

Kedutaan Indonesia di Damaskus mengatakan kini tengah berusaha memverifikasi kewarganegaraannya.

"Konflik dan kekerasan bersenjata di Suriah membuat proses verifikasi lebih sulit dan kompleks," kata Teuku Faizasyah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia.

"Selain itu, seperti yang dilaporkan sebelumnya, daerah di mana insiden itu terjadi berada di bawah kelompok yang menentang pemerintah Suriah," sambungnya.

Al-Hol terletak di barat laut Suriah, tempat pemerintahan Kurdi berkuasa, kata Antara.

Ratusan orang asal Indonesia diyakini telah bergabung dengan ISIS dan mereka yang selamat dari konflik sebagian besar ditahan di kamp-kamp di Suriah di bawah otoritas Kurdi.

Pemerintah Indonesia telah berencana untuk memulangkan warga dari negara yang dilanda perang, dan mendaftarkan mereka dalam program deradikalisasi.

Namun, tetap ada kekhawatiran mereka dapat membawa ideologi ekstrimis atau bahkan kekerasan dan kemampuan bertempur mereka. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved