Ngopi Pagi

Fokus : Alarm bagi Jokowi

Kali ini menimpa jurnalis Serambi Indonesia, di Aceh. Rumah Asnawi di Desa Lawe Loning, Kecamatan Lawe Sigala-gala

Fokus : Alarm bagi Jokowi
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
Cecep Burdansyah wartawan /Tribun Jateng 

Oleh Cecep Burdansyah

Wartawan Tribun Jateng 

Teror lagi, teror lagi. Kali ini menimpa jurnalis Serambi Indonesia, di Aceh. Rumah Asnawi di Desa Lawe Loning, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Agara dibakar orang tak dikenal, Selasa 30 Jui 2019 sekitar pukul 01.30 WIB dini hari.

Polisi memang belum memastikan motif aksi brutal pada jurnalis ini. Tapi dugaan kuat, teror terkait dengan profesi Asnawi sebagai jurnalis. Karena sebelum kejadian, istri Asnawi pernah didatangi orang tak dikenal yang menanyakan keberadaan suamnya.

Kasus ini menjadi alarm bagi Pemerintahan Jokowi di tengah-tengah berlum terungkapnya teror terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan. Meskipun sudah menurunkan tim gabungan pencari fakta yang bekerja indedenden, belum ada secercah cahaya siapa pelaku yang meneror Novel. Bahkan tim pencari fakta seolah menyudutkan Novel dengan menyebut bekerja melebihi kewenangannya.

Selama pemerintahan Jokowi periode pertama, penegakan hukum memang paling lemah. Klaim keberhasilan membangun infrastruktur jika tidak disertai dengan komitmen kuat dalam penegakan hukum akan menjadi sia-sia. Pasalnya, ketidaktegasan dalam penegakan hukum akan dijadikan celah oleh para bajingan untuk mengembat uang dari segala lini proyek. Proyek infrastruktur pun tak lepas dari embatan para maling.

Apabila kasus penyirman wajah Novel dan pembakaran rumah Asnawi gagal terungkap, bisa dipastikan para maling mendapat angin dan pasang kuda-kuda untuk melakukan aksi kejahatannya. Siapa yang mengganggu, akan disikat dengan cara melancarkan teror. Ini tentu saja menjadi gangguan serius bagi jalannya demokrasi yang sehat.

Novel Baswedan dan Asnawi bekerja di bawah naungan undang-undang. Profesi mereka juga dipagari kode etik. Aksi mengintimidasi mereka agar lumpuh dalam menjalankan tugasnya mengungkap kasus-kasus korupsi, merupakan lomceng kematian bagi terwujudnya pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Jokowi jangan sekadar berapi-api pidato. Jika ia menyadari wibawa pemerintah berada dalam penegakan hukum, ia harus segera memerintahkan Kapolri untuk mengungkap dua kasus tersebut, agar publik bisa mengetahui secara terang benderang siapa pelaku teror dan apa motifnya.

Jika kedua kasus tersebut terus diselimuti kabut, dampaknya bukan saja polisi yang kehilangan kepercayaan, tapi sekaligus meragukan niat pemerintahan Jokowi dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dari aksi teror. Apabila rasa aman sudah hilang, maka kehadiran negara sebagai entitas yang bertugas melindungi rakyatnya, gagal sudah, dan Jokowi akan dicatat dalam sejarah seperti halnya Soeharto yang gagal melindungi rakyatnya dan membiarkan korupsi merajalela.

Pemerintah harus menyadari, indimidasi terhadap Novel dan Asnawi itu bukan sekadar dirtujukan kepada mereka berdua secara individual. Teror tersebut merupakan pesan bagi penyidik dan jurnalis agar kehilangan keberanian dan kemerdekaannya dalam menjalankan tugas sesuai undnag-undang. Pesannya jelas: jika lancang mengusik kami, Anda dan keluarga dalam bahaya.

Dengan pesan tersebut, profesi penyidik dan pers menjadi sasaran tembak dan para pemangku profesinya dalam bahaya. Jika pers dalam ancaman ketakutan, sulit berharap pers bisa melakukan fungsinya dalam mengontrol sosial. Begitu pula jika penyidik dihantui intimidasi, sulit mengungkap kasus korupsi yang sudah akut di negeri ini.*

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved