Kurs Rupiah Masih Sulit Menguat ke Bawah Rp 14.000

Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan melakukan pelonggaran moneter jangka panjang.

Kurs Rupiah Masih Sulit Menguat ke Bawah Rp 14.000
KONTAN/Cheppy A Muchlis
ILUSTRASI 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Seperti sudah diperkirakan pelaku pasar, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed)memutuskan memangkas suku bunga acuan. Fed fund rate turun 25 basis poin jadi 2-2,25 persen.

Di saat yang sama, petinggi The Fed memberi sinyal hawkish ke pelaku pasar. "Ada pelonggaran moneter temporer, tapi berbeda dari ekspektasi pasar," tutur David Sumual, Ekonom Bank Central Asia, pekan lalu.

Sebelumnya, pelaku pasar memperkirakan The Fed akan melakukan pelonggaran moneter jangka panjang. Tapi Chairman The Fed Jerome Powell memberi sinyal pelonggaran hanya dilakukan dalam jangka pendek. The Fed juga cuma memangkas suku bunga 25 bps, lebih rendah dari proyeksi sebesar 50 bps.

Analis HFX Internasional Berjangka, Ady Phangestu menuturkan, hampir semua mata uang melemah terhadap dollar AS usai pidato Jerome Powell.

David menganalisa, kurs rupiah sulit bertahan lama di bawah Rp 14.000 per dollar AS. Meski kondisi fundamental Indonesia cukup positif, rupiah masih rentan tertekan sentimen negatif eksternal.

Enrico Tanuwidjaja, Kepala Ekonom UOB Indonesia, menyatakan, sikap The Fed yang hawkish terhadap kebijakan moneternya memengaruhi perilaku investor asing.

Menurut dia, selama data ekonomi AS cukup solid, The Fed kemungkinan baru memangkas kembali Fed fund rate pada rapat Desember nanti.

Saat itu terjadi, aliran dana asing yang masuk ke negara berkembang atau emerging market seperti Indonesia akan cenderung melambat. Ini akan mempengaruhi kurs rupiah.

Ady menilai, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai sentimen perang dagang antara AS dan China. Saat ini, tensi perang dagang cenderung berkurang. "Apalagi sudah mulai masuk masa kampanye pemilihan presiden AS," jelasnya.

Defisit

Dari dalam negeri, Enrico memaparkan, current account deficit (CAD) neraca dagang masih menjadi sentimen negatif. "Selama struktur CAD belum berubah, rupiah akan terus bergerak terdepresiasi secara terukur," paparnya.

Dengan kondisi itu, Enrico menegaskan, pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk menekan CAD.

Sejauh ini, para analis menilai pelemahan yang terjadi pada rupiah masih wajar.

"Pelemahan rupiah tidak dalam, karena kondisi rupiah yang masih sehat," tutur Ady.
Menurut perhitungan David, apabila ketegangan seputar perang dagang antara AS dan China kembali meningkat, The Fed juga tidak lagi memangkas suku bunga tahun ini, rupiah akan terus tertekan. Dalam kondisi tersebut, rupiah bisa turun ke Rp 14.500 per dollar AS di akhir tahun.

Hitungan Enrico tidak berbeda jauh. Menurut dia, dengan menimbang kondisi CAD, arus dana asing dan investasi langsung asing, level fundamental rupiah ada di Rp 14.500. Tapi bila arus dana asing yang masuk deras, rupiah bisa menyentuh Rp 14.000 di akhir tahun. (Kontan/Intan Nirmala Sari)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved