Milad Kofiku: Ngobrolin Karya Ngerayain Milad

Komunitas Fiksi Kudus (Kofiku) menggelar acara peringatan milad ke-4 di Susu Muria Cafe, Minggu (4/8/2019).

Milad Kofiku: Ngobrolin Karya Ngerayain Milad
Istimewa
Diskusi Kofiku di Susu Muria Cafe 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Komunitas Fiksi Kudus (Kofiku) menggelar acara peringatan milad ke-4 di Susu Muria Cafe, Minggu (4/8/2019).

Acara yang mengusung tema "Ngobrolin Karya, Ngerayain Milad" itu menghadirkan tiga penulis asli Kudus, yaitu Reyhan M Abdurrohman penulis novel remaja "Chiang Mai", Bagus Dwi penulis novel "Elegi Sendok dan Garpu", serta Dimas Nugraha penulis kumpulan puisi "Pecah".

“Aku simpan pecahan kaca dalam saku. Seperti kusimpan kau dalam masa lalu,” begitu penggalan puisi dalam karya Pecah yang dibacakan Dimas Nugraha setelah MC membuka acara.

Tak hanya pembacaan penggalan karya dari penulis-penulis muda asli Kudus, ngobrolin karya yang diusung Kofiku juga menghadirkan para pengulas yang membedah karya ketiganya.

“Dalam puisi-puisi Dimas Nugraha, saya menemukan pola-pola struktur yang sama seperti yang digunakan Sapardi Djoko Damono dalam menulis puisi. Meski begitu, ada satu puisi yang mengena bagi saya sebagai pembaca. Tentang sehelai rambut yang berisi konsep-konsep kematian,” ujar Aditya menyampaikan ulasannya tentang kumpulan puisi Pecah.

Menggapi ulasan tersebut, Dimas membenarkan. Sebab, ia memang pengagum puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dan berharap suatu saat nanti bisa menemukan gayanya sendiri dalam menulis puisi.

Diskusi berlanjut pada ulasan novel Chiang Mai, novel ketiga Reyhan M Abdurrahman. Shoma Noor Fadlilah berperan sebagai pengulas.

"Konflik-konflik yang ditulis oleh Reyhan terjalin dengan apik, penggunaan bahasa Thailand semakin menambah kekuatan setting yang dihadirkan penulis. Ada satu kemiripan yang diangkat oleh penulis, yaitu sifat nekad dari semua karakter dalam novelnya.”

Selanjutnya, Arif Rohman mengulas novel Elegi Sendok dan Garpu.

“Cerita agak susah diingat tapi bukan berarti ceritanya tidak bagus. Hal ini dikarenakan bacaan penulis yang termasuk bacaan luar negeri. Kafka, Orhan Pamuk, dan sebagainya. Yang membuat saya tertarik adalah bagaimana penulis mampu membaca bacaan yang menurut saya berat dan direfleksikan ke dalam tulisannya.”

Acara Peringatan Milad Ke-4 Kofiku hari itu juga dimeriahkan oleh KB Kustik yang membawakan soundtrack novel Mendayung Impian dan Chiang Mai karya Reyhan M Abdurrohman. Acara semakin meriah saat proses tanya jawab. Apalagi karya-karya yang dibicarakan cukup lengkap: novel remaja, novel sastra, dan kumpulan puisi.

Ada satu pertanyaan serius dari penonton yang dijawab secara menggelitik. “Bagaimana caranya menulis puisi hingga menjadi sebuah buku?” penyair muda Dimas Nugraha hanya menjawab dengan satu kata diiringi sebuah senyuman, “tekun.” (*)

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved