Analisis : IHSG Berpeluang Melemah hingga Akhir Bulan Ini

Efek sentimen rilis laporan keuangan emiten itu terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan dirasakan setidaknya sepanjang bulan ini.

Analisis : IHSG Berpeluang Melemah hingga Akhir Bulan Ini
thikstock via Kompas.com
Ilustrasi bursa 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Gempita musim rilis laporan keuangan tengah tahun bakal segera mencapai akhir. Efek sentimen rilis laporan keuangan emiten itu terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan dirasakan setidaknya sepanjang bulan ini.

Namun, pelaku pasar perlu berhati-hati. Sejumlah analis memperkirakan Agustus bukan bulan yang apik bagi pergerakan indeks saham. Apalagi, kinerja keuangan sejumlah emiten kurang memuaskan, sehingga sulit membuat IHSG melesat.

"Kinerja keuangan emiten blue chip kurang memuaskan di paruh pertama tahun ini," ujar Senior Manager Research Analyst Kresna Sekuritas, Robertus Yanuar Hardy, Sabtu (3/8).

Ambil contoh, kinerja Grup Astra yang terseret tekanan di bisnis perkebunan. Sepanjang semester pertama tahun ini, bisnis perkebunan Grup Astra hanya mampu menyumbang laba bersih Rp 35 miliar.

Nilai itu merosot 94% dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 625 miliar. Penurunan itu menjadi yang terbesar dibandingkan dengan segmen bisnis lain.
Selain itu, juga ada tekanan dari bisnis segmen batubara. Beruntung, Grup Astra kini memiliki bisnis emas, yang harganya sedang moncer.

Dengan demikian, laba bersih di segmen pertambangan, yang disumbang PT United Tractors Tbk (UNTR), masih naik, meski hanya 2 persen, menjadi Rp 3,33 triliun.
Kurang optimalnya sejumlah segmen dalam portofolio bisnis Grup Astra membuat perusahaan itu terpaksa mencatat penurunan laba bersih 6 persen menjadi Rp 9,8 triliun.

Senada, Kepala Riset Narada Aset Manajemen, Kiswoyo Adi Joe menilai, kurang moncernya kinerja keuangan emiten bakal memengaruhi pergerakan indeks hingga akhir bulan ini.

Sentimen eksternal

Faktor dalam negeri bukan satu-satunya kambing hitam. Potensi tertekannya indeks juga berasal dari sentimen eksternal. Selain soal perang dagang, perhatian investor juga belum lepas dari suku bunga The Fed.

Untuk pertama kalinya sejak krisis 2008, The Fed memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke kisaran 2-2,25 persen. Hal itu seharusnya positif dan bisa menyegarkan pergerakan indeks. "The Fed baru saja menurunkan suku bunga acuan. Ini seharusnya positif," jelas Kiswoyo.

Yang menjadi masalah adalah pernyataan Jerome Powell, Gubernur The Fed, yang mengindikasikan penurunan itu hanya sesaat. Menurut Powell, penurunan yang baru saja dilakukan bukan awal dari serangkaian penurunan suku bunga dalam jangka panjang. “The Fed kurang bisa menjamin kelanjutan penurunan suku bunga,” papar Robertus.

Menurut perhitungan Kiswoyo, tekanan pada indeks, baik dari faktor domestik ataupun global, berpotensi membuat IHSG bertengger di level 6.250. Indeks pada perdagangan akhir pekan lalu ditutup melemah 0,65 persen ke level 6.340.

Meski demikian, ada peluang bagi investor di balik potensi penurunan itu. Kiswoyo merekomendasikan investor mengakumulasi saham blue chip yang murah. "Buy on weakness, salah satunya UNVR," ucapnya. (Kontan/Akhmad Suryahadi Sadewa)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved