DLH Kota Semarang Beri Waktu 1 Bulan ke Pengelola IPAL di Gunungpati Supaya Tak Cemari Lingkungan

Kelompok Pengelola dan Pengguna Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Komunal di Dukuh Puntan, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati Kota Semarang.

DLH Kota Semarang Beri Waktu 1 Bulan ke Pengelola IPAL di Gunungpati Supaya Tak Cemari Lingkungan
TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI FAJLIN
Petugas DLH mengecek air hasil olahan IPAL di Dukuh Puntan, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati Kota Semarang, yang berwarna hitam pekat dan memunculkan aroma tidak sedap, Rabu (31/7/2019). 

Dia pun meminta pengguna IPAL untuk mengubah kebiasaan membuang limbah rumah tangga kedalam IPAL.

Jika dalam satu bulan pengguna tidak dapat mengubah kebiasaan tersebut. Pihaknya pun tidak segan menutup IPAL tersebut.

"Tadi keputusannya, diberi waktu satu bulan dulu. Kalau masih bermasalah, akan dipertemukan lagi. Kalau memang sudah mentok, tetap bau dan lain-lain, terpaksa kami tutup," tegasnya.

Menurutnya, KPP juga perlu membuat resapan kembali, membersihkan gas trap, membersihkan batu-batu untuk mengendapkan kotoran, serta memisah saluran limbah dari kloset dan rumah tangga.

Diakuinya memang membutuhkan banyak anggaran untuk memperbaiki secara keseluruhan.

"Baru kali ini saya menemukan masalah IPAL komunal seperti di Ngijo. Kami dari Disperkim juga ada bantuan pembuatan IPAL Komunal, namun tidak ada permasalahan seperti IPAL di Ngijo ini," tegasnya.

Sebelum Berangkat ke Makkah, Almarhum KH Maimoen Zubair Titip Pesan ke Wagub Jateng

Sementara itu, Pengelola IPAL Komunal, Haryono akan mengupayakan hal yang telah menjadi kesepakatan bersama.

Pihaknya akan memberikan informasi kepada para pengguna IPAL agar mereka dapat mengubah perilaku yang selama ini ternyata menyebabkan IPAL tersebut bermasalah.

Seperti diketahui, IPAL komunal di Kelurahan Ngijo yang digunakan 37 KK ini mengeluarkan air berwarna hitam pekat hingga mencemari lingkungan.

Warga terdampak yang berada disekitar lokasi IPAL pun resah.

Mereka merasa terganggu dengan bau tidak sedap yang ditimbulkan dari IPAL tersebut.

Mereka sudah bermusyawarah dengan KPP IPAL namun tidak menemukan titik temu hingga pada akhirnya melaporkan hal tersebut kepada DLH Kota Semarang. (eyf)

Penulis: Eka Yulianti Fajlin
Editor: suharno
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved