Jelang Iduladha, Perajin Tusuk Sate di Jepara Kebanjiran Pesanan

Bagi para perajin tusuk sate, ternyata juga mendapat percikan rezeki akan datangnya hari raya kurban

Jelang Iduladha, Perajin Tusuk Sate di Jepara Kebanjiran Pesanan
Tribunjateng.com/Rifqi Gozali
Atmuah saat membuat tusuk sate, Kamis (8/8/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA – Datangnya hari raya Iduladha tidak hanya berdampak positif bagi penjual hewan ternak. Bagi para perajin tusuk sate, ternyata juga mendapat percikan rezeki akan datangnya hari raya kurban.

Di Jepara, sentra perajin tusuk sate ada di Desa Kendengsidialit, Kecamatan Welahan.

Banyak ditemui perempuan di desa itu setiap hari berkutat dengan bambu yang diolah sampai menjadi batang bambu kecil yang runcing di satu sisi sebelahnya.

Satu di antara perajinnya yaitu Atmuah (40). Beberapa hari sebelum tiba Iduladha, dia mengebut memenuhi pesanan 50 ribu batang tusuk sate.

Pesanan itu harus sudah sampai di tangan pengepul sebelum lebaran kurban tiba.

Dalam sehari, dia bisa membuat sampai 2 ribu batang tusuk sate per hari. Namun karena banyaknya pesanan, akhirnya dia harus melebihi pencapaian produksi dari hari biasanya.

“Biasanya kalau mejelang lebaran Iduladha, bisa lebih dari 2 ribu per hari. Banyaknya pesanan dan pasti diambil oleh pengepul,” kata Atmuah di kediamannya di Dukuh Sidialit.

Untuk membuat tusuk sate, memang tidak butuh keterampilan khusus. Cara membuatnya pun tidak begitu rumit.

Hanya saja, butuh kesabaran dan ketelatenan. Bagi Atmuah, tentu itu sangat mudah karena setiap hari selain mengurus rumah tangga, di sela-selanya dimanfaatkannya untuk membuat tusuk sate.

Proses yang harus dilalui dalam mebuat tusuk sate, pertama bambu dipotong sesuai ukuran panjang tusuk sate. Katakan sekitar 20 sentimeter. Kemudian, dipotong pipih untuk setelahnya di bambu yang sudah pipih itu di dipotong lagi menjadi ukuran kecil.

“Untuk sampai menjadi tusuk satu potongan kecil itu harus digosok lalu ujunganya diruncingkan menggunakan mesin gerenda,” katanya.

Untuk harganya pun naik saat seperti ini. Kalau di hari biasa, Atmuah mampu menjual per seribu tusuk sate hanya dengan Rp 7.500, kini bisa sampai Rp 10 ribu per seribu tusuk.

Sementara, Sukamah (60), seorang pengepul tusuk satu di desa tersebut mengatakan, naiknya permintaan dan harga tusuk sate saat jelang Iduladha wajar terjadi. Itupun selalu habis diburu mereka yang hendak menikmati daging dengan olahan sate saat lebaran.

Tusuk sate buatan warga Kendengsidialit, rupanya tidak hanya beredar di Jepara saja. Di beberapa daerah sekitarnya juga biasa memasok tusuk sate dari desa itu.

“Ada yang dari Demak, Jepara, Grobogan, dan Kudus,” katanya. (*)

Penulis: Rifqi Gozali
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved