Opini Al-Mahfud : Refleksi tentang Haji Berkali-kali

PADA suatu masa, hiduplah seorang ulama zuhud bernama Abdullah bin Mubarak (118-181 H). Selepas menunaikan ibadah haji di Masjidil Haram

Opini Al-Mahfud : Refleksi tentang Haji Berkali-kali
Tribun Jateng
Al-mahfud 

Oleh Al-Mahfud

Lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Kudus. Menulis artikel, esai, dan ulasan buku di berbagai media massa.

PADA suatu masa, hiduplah seorang ulama zuhud bernama Abdullah bin Mubarak (118-181 H). Selepas menunaikan ibadah haji di Masjidil Haram, ia tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya, ia berjumpa dua malaikat yang sedang bercakap-cakap tentang orang-orang yang beribadah haji saat itu.

“Berapa orang yang melaksanakan ibadah haji tahun ini?” tanya malaikat satu ke malaikat yang lainnya.

“Enam ratus ribu”

“Berapa dari mereka yang diterima hajinya oleh Allah?”

“Tidak ada sama sekali”

“Tapi, ibadah haji Muwaffaq, seorang tukang sepatu dari Damaskus diterima meskipun ia tidak berangkat ke Tanah Suci untuk berhaji. Dan lantaran berkah haji orang ini, seluruh haji orang-orang menjadi diterima”

Mengutip keterangan Mahbib Khoiron (2017), dalam kitab Irsyadul ‘Ibad ila Sabilir Rasyad karya Zainuddin ibn Abdul Aziz al-Malibari dikisahkan, setelah bangun dari tidurnya, Abdullah bin Mubarak segera mencari Muwaffaq di Damaskus. Setelah bertemu, ia menanyakan rahasia di balik derajat tinggi yang ia peroleh seperti dikatakan malaikat dalam mimpinya.

Muwaffaq kemudian berkisah tentang keinginannya yang kuat untuk beribadah haji. Sebagai seorang fakir yang hanya bekerja sebagai tukang tambal sandal atau sepatu, keinginan pergi ke Tanah Suci untuk haji tentu menjadi begitu berat. Namun, berkat kerja kerasnya, ia mampu mengumpulkan uang 300 dirham yang saat itu cukup jika digunakan untuk bekal pergi ke Tanah Suci.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved