Tahun 2020, Pasar Tradisional Harus Terapkan E-Retribusi

Dinas Perdagangan Kota Semarang menargetkan seluruh pasar tradisional di Kota Semarang akan menggunakan sistem retribusi elektronik

Tahun 2020, Pasar Tradisional Harus Terapkan E-Retribusi
Tribun Jateng/Amanda Rizqyana
Ilustrasi pasar 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Dinas Perdagangan Kota Semarang menargetkan seluruh pasar tradisional di Kota Semarang akan menggunakan sistem retribusi elektronik (e- retribusi) pada 2020 mendatang.

Program ini merupakan inovasi yang dilakukan Dinas Perdagangan untuk memudahkan pedagang dalam membayar retribusi, juga agar penarikan retribusi pasar bisa lebih transparan.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fravarta Sadman mengatakan, sistem e-retribusi telah berjalan di Kota Semarang. Namun, belum seluruh pasar tradisional menerapkan sistem ini.

Menurutnya, dari 52 pasar tradisional yang dimiliki Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, lima di antaranya telah menerapkan sistem e-retribusi. Lima pasar itu yakni Pasar Pedurungan, Pasar Sampangan, Pasar Jatingaleh, Pasar Rasamala, dan Pasar Bangetayu.

Melalui sistem e-retribusi, para pedagang di pasar tradisional hanya berbekal kartu seperti kartu ATM. Mereka mengisi saldo terlebih dahulu. Kemudian, mereka tinggal melakukan tapping kartu tersebut pada alat yang disediakan oleh juru pungut.

"Program ini sudah berjalan satu tahun. Sementara ini baru lima pasar. Tahun depan kami akan perluas lagi sistem ini. Target kami, semua pasar dapat menerapkan e-retribusi pada 2020. Mudah-mudahan bisa terealisasi," papar Fravarta, Jumat (9/8).

Sebenarnya, pihaknya ingin segera merealisasikan e-retribusi di seluruh pasar. Hanya saja, masih terkendala alat tapping. Dari lima pasar yang saat ini telah menerapakan e-retribusi, dua pasar menggunakan alat tapping bantuan dari Bank Jateng sebagai mitra kerja sama. Sisanya, alat tapping dianggarkan oleh Dinas Perdagangan.

Pihaknya berencana akan kembali menganggarkan alat tapping agar seluruh pasar dapat menerapkan sistem e-retribusi pada 2020.

Dikatakannya, sebelum menerapkan sistem ini, penarikan retribusi pasar masih menggunakan karcis. Beberapa kendala pun kadang dijumpai para juru pungut, semisal susah memberikan uang kembalian. Pasalnya, tarif lapak senilai Rp 600 rupiah per meter per hari. Adapun retribusi yang dibayarkan sesuai luasan lapak dikalikan tarif.

"Kalau menggunakan e-retribusi pembayaran kan lebih gampang. Pedagang tidak membayar ke juru pungut. Juru pungut hanya membawa alatnya saja, pedagang tapping kartu, saldonya berkurang, langsung masuk ke sistem kami," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Eka Yulianti Fajlin
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved