FEB UNS Solo: Dorong Kemajuan Industri Keuangan Syariah dengan Fintech

Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar yang sangat potensial bagi industri keuangan syariah.

FEB UNS Solo: Dorong Kemajuan Industri Keuangan Syariah dengan Fintech
IST
FEB UNS Surakarta bekerjasama dengan Bank Mandiri Syariah menggelar FGD "Sinergitas Fintech dalam Konsep Syariah" di Ruang Indraprastha UNS Inn, Jumat (9/8/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SURAKARTA - Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia menjadi salah satu pasar yang sangat potensial bagi industri keuangan syariah.

Hal tersebut dapat dilihat dengan banyaknya penduduk Indonesia yang memeluk Islam dengan jumlah sebesar 208 juta penduduk.

Atau bila dipersentasekan jumlah tersebut sebesar 88,20%.

Meski dari segi jumlah muslim Indonesia dapat dikatakan sangat potensial, ternyata hanya 74,88 juta penduduk Muslim Indonesia yang bisa mengakses produk dan layanan yang disediakan oleh industri keuangan syariah.

Sisanya, sebesar 113,12 juta penduduk muslim Indonesia belum dapat menikmati akses akan produk dan layanan keuangan syariah.

Dengan berkaca pada fakta tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bekerjasama dengan Bank Mandiri Syariah menggelar Focus Discussion Group (FDG) dengan tajuk "Sinergitas Fintech dalam Konsep Syariah" bertempat di Ruang Indraprastha UNS Inn, Jumat (9/8/2019)

Achmad Bukhori selaku Advisor Startegis Committee dari Pusat Riset Otoritas Jasa Keuangan (OJK) RI melihat bahwa ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi oleh industri keuangan syariah agar dapat mencapai target pasar keuangan syariah di Indonesia.

"Kita harus memenuhi sejumlah prasyarat terlebih dahulu, seperti sumber daya manusia, infrastruktur dasar, dan kehandalan penggunaan teknologi," terang Achmad Bukhori

Agar industri keuangan syariah Indonesia dapat berkembang dengan pesat, diperlukan sejumlah cara agar konsep keuangan syariah dapat disinergikan dengan pemanfaatan teknologi keuangan atau biasa disebut fintech.

Cara yang pertama adalah dengan meningkatkan awareness muslim terhadap produk/ jasa industri keuangan syariah.

Kedua, ketersediaan produk/ layanan dan standardisasi produk harus dipenuhi sesuai ekspetasi penduduk muslim Indonesia.

Dan yang ketiga adalah dengan penguatan regulasi, variasi produk layanan, efisiensi produksi, dan pengawasan inherrent dan mandatory yang lebih baik.

Dalam FDG kali ini, turut hadir pula sebagai pembicara Iskandar Zulkarnain dari Badan Pengelola Keuangan Haji RI, Erwin Haryono dari Dewan Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia serta Irwan Trinugroho yang merupakan akademisi FEB UNS. (*)

Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved