OPINI Syahrul Kirom: Idul Adha dan Persatuan Bangsa

Pada momentum Idhul Adha 1440 H, yang tepat jatuh pada tanggal 11 Agustus 2019 kemarin. Umat Islam mampu merefleksikan secara kritis- filosofis

OPINI Syahrul Kirom: Idul Adha dan Persatuan Bangsa
Tribun Jateng
Syahrul Kirom 

Oleh Syahrul Kirom, M.Phil

Peneliti dan Alumnus Pascasarjana UGM Yogyakarta

Pada momentum Idhul Adha 1440 H, yang tepat jatuh pada tanggal 11 Agustus 2019 kemarin. Umat Islam mampu merefleksikan secara kritis- filosofis dan komprehensif tentang makna kurban. Sehingga ibadah kurban yang dilakukan umat Islam mempunyai nilai yang berarti (meaningfull) dalam dirinya.

Secara historis, Ibadah kurban ini dilakukan ketika Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang diturunkan dari Allah SWT untuk menyembelih anaknya Ismail. Perintah itu berarti ujian bagi Nabi Ibrahim untuk merelakan putranya demi mencapai ketaqwaan dan ridha dari Allah SWT. Dan pada akhirnya, penyembelihan anaknya itu diganti oleh Allah dengan seekor kambing.

Di tengah situasi disintegrasi bangsa Indonesia yang saat ini terjadi. Inilah ujian bagi umat Islam, dimana letak nilai-nilai, keimanan dan ketaqwaan umat Islam yang memiliki kelebihan harta dan kekayaan diuji oleh Allah SWT, untuk sedikit mengurbankan hartanya demi menegakkan ajaran dan syari’at Islam serta demi membantu kaum yang lainnya. Karena itu, sejauhmana kualitas keagamaan umat Islam dalam menjalankan ibadahnya secara vertikal (habluminallah) dan horizontal (habluminannas), akan teruji dalam ritual ibadah kurban ini, untuk selalu memperhatikan kaum fakir miskin, melainkan dengan kurban mampu membangun solidaritas kebangsaan.

Pada momentum Idhul Adha itulah umat Islam sangat dianjurkan untuk melakukan Ibadah kurban. Dalam surat Al- Kautsar ayat 2 telah dijelaskan “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah“. Ayat diatas menjelaskan kepada seluruh pemeluk agama Islam, terutama bagi mereka yang secara finansial mempunyai kelebihan harta dan kekayaan, untuk membeli hewan ternak, agar dikurbankan sebagai bentuk keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Pesan yang dikandung dalam makna Idhul Adha, adalah pada dimensi sosial untuk kemanusiaan dan untuk kebangsaan, bukan dimensi indvidual untuk golongan tertentu dan untuk kepartaiaan atau atas nama identitas muslim tertentu. Ketika makna Idhul Adha, ditarik pada tataran perpolitikan di Indonesia saat ini, maka sejatinya para penguasa muslim di Indonesia harus mampu mengurbankan dan meleburkan seluruh Identitas partai politik demi merajut solidaritas persatuan Indonesia dan untuk mencapai kebangsaan yang rahmatan lil alamin.

Prinsip individualisme yang mengatasnamakan golongan, koalisi dan kepartaian ini sudah harus dihilangkan dalam upaya membangun solidaritas kebangsaan. Umat Islam harus memperbaiki cara berpikir dan berperilaku yang tidak mengkotak-kotakan agama, tidak menghina agama yang lain, tidak boleh membenci sesama yang minoritas, tidak egoistik, tidak tersentralisasi pada kepartaiaan, tidak tersentralisasi pada koalisi. Islam mengajarkan kepada umatnya agar selalu melakukan kebaikan kepada sesamanya dan semua golongan apapun identitas. Karena itu, upaya saling membangun solidaritas terhadap sesama yang lain merupakan suatu keniscayaan.

Pada dasarnya, berkurban dalam bentuk kambing, kerbau dan sapi ini merupakan simbol perwujudkan tingkat keikhlasan dalam mengorbankan segala harta di dunia yang kita miliki. apa yang telah diajarkan dalam agama Islam, bahwa harta dan kekayaanmu di dunia ini adalah bersifat temporer. Akan tetapi, yang lebih terpenting, secara ontologi, makna kurban adalah bagaimana perilaku umat Islam selalu melakukan kebaikan terhadap sesamanya dan tidak menebarkan kebencian terhadap umat Islam lainya yang justru akan merusak nilai-nilai solidaritas kebangsaan.

Secara aksiologi, ibadah Kurban merupakan bentuk keteguhan hati dan keimanan seseorang untuk menguatkan nilai-nilai persatuan bangsa, kesalehan sosial untuk kebangsaan dan keindonesiaan dalam ibadah kurban sangat ditekankan, nilai-nilai keindahan berkurban terletak pada sikap dan tindakan umat Islam dalam membangun nilai-nilai kesatuan umat Islam.

Secara epistemologi, adanya hari raya Idhul Adha, yang diinginkan dalam pesan antara Nabi Ibrahim dengan menyimbolkan pada penyembelihan anaknya Nabi Ismail, yang akhirnya diganti dengan seekor dengan kambing, memiliki dua basis epistemologi. Pertama, umat Islam diwajibkan untuk selalu beriman dan bertakwa, baik dalam kondisi kaya atau miskin seseorang, sehingga ketakwaan dan kepatuhaan akan perintah Allah swt itu wajib ditunaikan, meskipun dengan mengorbankan harta dan kekayaan serta jabatan di pemerintahan.

Kedua, umat Islam itu diharuskan untuk selalu bersikap konsisten, memiliki komitmen, jujur dan bertanggung jawab serta amanah jabatan dipegangnya secara penuh dan dijalankan dengan baik, sebagaimana amanah Nabi Ibrahim untuk mengorbankan anaknya Ismail dalam mimpinnya. Hal ini menegaskan bahwa sikap konsisten dan jujur merupakan tonggak dasar seseorang mematuhi perintah Allah. Praktik kebohongan dan ketidakkonsistenya dalam berpolitik dan kekuasaan yang dimiliki seseorang dengan cara yang haram dalam sistem pemerintahan merupakan tindakan manusia akibat tidak dapat menjalankan amanah dan kepatuhan dari perintah Allah swt. Alhasil, kehancuran bangsa Indonesia akan dialami bangsa Indonesia.

Dengan demikian, umat Islam di Indonesia, khususnya terhadap pejabat negara, penguasa, pejabat daerah dan elite politik, harus mampu memaknai Ibadah Idhul Adha, tidak hanya secara ritual dan menyembelih kurban saja. Akan tetapi, yang sangat signifikant bagaimana tindakan dan perbuatan kita setelah menjalankan ibadah idhul adha dan berkurban. Apakah kita tetap menjalankan perintah dan menjauhi larangan dari Allah termasuk menjauhi praktek ketidakujujuran dan ketidakkonsistensi dalam berpolitik ? Karena itu, pada momentum Idhul adha, berkurban untuk kesejahteraan dan berkurban demi mencapai cita-cita politik kebangsaan adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan seluruh umat Islam di Indonesia.Semoga. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved