Penjualan Sarung Batik Motif Peta Indonesia Naik 150% Jelang HUT RI

Sejumlah perajin sarung di Kabupaten Pekalongan mengalami peningkatan penjualan menjelang perayaan HUT ke-74 Republik Indonesia (RI).

Penjualan Sarung Batik Motif Peta Indonesia Naik 150% Jelang HUT RI
TRIBUN JATENG/RIFQI GOZALI
Proses pembuatan sarung batik di Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus, Selasa (22/5/2018) 

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Sejumlah perajin sarung di Kabupaten Pekalongan mengalami peningkatan penjualan menjelang perayaan HUT ke-74 Republik Indonesia (RI).

Satu di antaranya Abdul Hakim (32), perajin sarung batik lukis asal Desa Waru, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, yang mencatatkan peningkatan omzet mencapai 150 persen dari kondisi normal.

Hakim mengatakan, penjualan sarung batik lukis yang mengalami peningkatan permintaan tinggi adalah sarung motif peta Indonesia.

"Sejak dua bulan ini motif peta Indonesia mengalami peningkatan penjualan. Biasanya sebulan terjual 20 potong, tetapi kali ini bisa mencapai 50 potong," katanya, ditemui Tribun Jateng, di rumah produksinya, Minggu (11/8)
Ia mengaku sudah dua tahun membuat sarung dengan motif peta Indonesia. Hakim sengaja memilih motif itu lantaran belum banyak perajin yang membuat.

Selain itu, motif tersebut sebagai bentuk kecintaannya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Saya lahir pada 17 Agustus. Bentuk kecintaan terhadap Negara ini, saya tuangkan di selembar kain hitam ini," ujarnya.

Hakim menceritakan, kesulitan membuat motif peta Indonesia itu adalah mendapatkan gambar yang pas untuk dijadikan patokan.

"Agar tidak meleset bentuk baku pulau, saya sengaja menjiplak. Tetapi untuk motif yang ada di sekitar pulau, saya melakukannya dengan melukis secara manual," jelasnya.

Selain motif peta Indonesia, ia juga memroduksi sarung dengan motif yang lain, seperti wayang, batik biasa, dan masih banyak lagi.

Hakim mengungkapkan, selama ini menjual produk sarungnya lewat sosial media dan secara 'getok tular'. Dari hal itu, sarung yang diproduksi sudah banyak dipesan, baik warga lokal maupun luar daerah.

"Saya memasarkan sarung lewat media sosial baik Facebook, Instagram, WhatsApp, dan dari mulut ke mulut. Alhamdulillah, banyak yang pesan produk. Pemesan dari luar kota yaitu Sulawesi, Denpasar, Makassar, Jakarta, Ponorogo, Kuningan, Bandung, Pasuruan, dan Malang," jelasnya.

Hakim mengungkapkan, satu sarung produksinya dibanderol dengan harga Rp 150 ribu.

Terpisah, Arifin (22), pembeli sarung batik motif peta Indonesia, mengatakan, tahu adanya penjual sarung batik motif peta Indonesia dari sosial media.

Menurut dia, motif itu sangat unik dan jarang ada yang membuat. "Saya tahu di Facebook ada penjual sarung batik gambar peta Indonesia. Terus saya cari alamatnya. Tadi pesan 15 sarung. Selain dipakai sendiri, rencananya beberapa sarung itu akan dipakai untuk dijadikan hadiah saat lomba-lomba 17 Agustus," paparnya.

Arifin berujar, harga sarung itu yang dipatok Rp 150 ribu dinilai relatif murah. "Alhamdulillah harganya masih terjangkau di kantong, sesuai motif dan kualitas," tandasnya. (dro)

Penulis: Indra Dwi Purnomo
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved