OPINI Abdullah Mustappa : Soekarno Tidak Berhenti Berpikir

Dalam sejarah Indonesia, dibandingkan dengan tokoh pergerakan lainnya, jejak Soekarno sangat fenomenal. Pergulatan pemikirannya yang panjang

OPINI Abdullah Mustappa : Soekarno Tidak Berhenti Berpikir
Bram
Abdullah Mustappa 

Soekarno sendiri mengakui konsep yang ditawarkannya itu merupakan pemikiran dan penafsiran atas berbagai adat, kebiasaan, tradisi dan budaya yang sudah berabad-abad lamanya menjadi milik bangsanya. Pendekatannya yang humanistik dan holistik menjadi salah satu daya pikatnya.

Tapi dalam periode-periode selanjutnya Soekarno seolah dibiarkan berpikir dan berjalan sendirian. Bung Hatta yang atas kesepakatan awal sempat dipandang sebagai pasangan yang serasi bagi sosok Soekarno, dengan estimasi memberikan pandangan penyeimbang, terlalu cepat mengundurkan diri. Sekarang, mungkin kita bisa mengatakannya seperti itu. Masalahnya, kita tergoda untuk berandai-andai. Andaikata Bung Hatta terus mendampingi dan berargumen dengan Soekarno, barangkali sejarah bangsa ini akan sedikit berbeda.

Bahwa kemudian sosok Soekarno tidak tertandingi oleh yang lain, di antaranya karena Soekarno sendiri cenderung otoriter, sudah merupakan bagian dari sejarah. Posisi Soekarno seperti itu menuju puncaknya setelah bangsa ini melaksanakan Pemilu tahun 1955. Banyak pihak mengakui, pemilu pertama tersebut berlangsung damai, lancar dan demokratis meskipun jumlah pesertanya sangat banyak. Tapi dalam proses selanjutnya, semangat damai dan demokratis itu tidak dominan dalam sidang-sidang Konstituante. Karena berlarut-larut, Soekarno kehilangan kesabaran. Dia pun akhirnya mengambil jalan pintas, memberlakukan Dekrit Presiden yang mendapat dukungan tentara.

Mungkin pihak tentara pada waktu itu yakin, dengan menyetujui Dekrit, Soekarno akan lebih berpihak pada ambisi serta kepentingan pihak militer yang sangat berhasrat mendapat peran dominan secara politis. Tapi terbukti, harapan seperti itu kandas, karena dalam pergolakan politik selanjutnya Soekarno malah lebih dekat dengan pihak komunis. Kalau kita membacanya kembali sekarang, hal itu mungkin terjadi karena Soekarno yang tetap bergumul dalam pemikiran lebih merasa nyambung dengan pikiran-pikiran Nyoto ketimbang pikiran-pikiran AH Nasution. Pada titik inipemikiran Soekarno menjadi sesuatu yang krusial. Ambisinya yang terus melambung,mengantarkan pemikirannya ke arah yang sulit dikendalikan dan pada titik tertentu justru membingungkan. Konsepnya tentang Nasakom menegaskan dugaan seperti itu. Retorika revolusi belum selesai justru menyebabkan bangsa ini terpolarisasi.

Sebagai sosok manusia, dalam pandangan generasi saat ini, Soekarno sudah merupakan masa lalu. Tapi tidak demikian dengan pemikiran-pemikirannya. Pemikiran Seokarno tentang kebangsaan misalnya,masih relevan dan baik terang-terangan maupunsembunyi-sembunyi, masih menjadi anutan para politisi.  Nilai-nilai kebangsaan masih menjadi acuan, sebagaimana yang kita saksikan, dalam pemilu dan pilpres yang barusaja berlangsung.

Sejumlah partai politik memilih konsep-konsep kebangsaan sebagai habitatnya, dan terbukti masih menjadi mayoritas pilihan rakyat. Meski harus diakui, konsep kebangsaan yang dianut parpol saat ini belum tentu sejalan dengan gagasan Soekarno ketika itu.

Dalam perspektif yang lebih luas, prinsip-prinsip kebangsaan sebagaimana yang menjadi anutan sebagian besar bangsa ini, justru sedang menjadi bahan perdebatan yang menarik. Supremasi kulit putih misalnya, menjadi materi yang secara terang-terangan ditawarkan oleh Donald Trump. Presiden AS yang satu ini rekam jejaknya lebih kental dengan dunia hiburan ketimbang jagat pemikiran ideologis.

Retorika bicara serta tuitannya di twitter sangat menyentak. Tidak sedikit yang bertanya-tanya, mengapa wacana seperti itu justru mengemuka di tengah masyarakat yang sebelumnya dikenal sebagai biangnya demokrasi.

Keputusan rakyat Inggris untuk keluar dari Uni Eropa yang merupakan hasil referendum, dalam perjalanannya kemudian justru menimbulkan berbagai friksi, termasuk kehendak lepas dari Inggris sebagaimana muncul kembali di Skotlandia dan Irlandia Utara. Konsep kebangsaan di beberapa negara Eropa juga menjadi wacana politik yang cukup panas. Ada kehendak untuk memilih jalur berbeda yang sebelumnya justru ditepis. Apakah demokrasi dan nasionalis mesudah menyimpang dari arahnya semula?

Yang juga sangat erat kaitannya dengan bangsa ini adalah fenomena yang terjadi di Tiongkok beberapa dasawarsa terakhir. Hubungan Indonesia dengan Tiongkok beberapa kali mengalami pasang surut. Tapi membicarakan hubungan Indonesia-Tiongkok setelah runtuhnya Uni Soviet, tentu sangat berbeda. Tiongkok saat ini adalah raksasa ekonomi yang membuat AS agak gentar.

Halaman
123
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved