OPINI Abdullah Mustappa : Soekarno Tidak Berhenti Berpikir

Dalam sejarah Indonesia, dibandingkan dengan tokoh pergerakan lainnya, jejak Soekarno sangat fenomenal. Pergulatan pemikirannya yang panjang

OPINI Abdullah Mustappa : Soekarno Tidak Berhenti Berpikir
Bram
Abdullah Mustappa 

Mencatat kembali tradisi pemikiran Soekarno yang sangat terbuka, terutama menghadapi berbagai ideologi yang memengaruhi dunia, menimbulkan rasa penasaran yang menggoda. Bagaimana bangsa Indonesia yang berazaskan Pancasila, menafsirkan atau memahami perubahan yang hampir tidak diperkirakan sebelumnya, termasuk fenomena sebuah negara komunis yang kemudian berkembang menjadi raksasa kapitalis.

Di masa lalu, pemikiran Mao temasuk yang sering menjadi bahan pembicaraan di kalangan terpelajar dan politisi di Indonesia. Sejauh ini belum muncul pemikiran yang otentik terhadap ‘ideologi’  Xi Jinping (anak ideologis Deng Xiaoping) yang telah mengantarkan Tiongkok ketingkat seperti saat ini. Peran Tiongkok menjadi sangat dominan justru ketika peran Rusia tidak terlalu menonjol.

Tradisi berpikir Soekarno tampaknya menjadi tantangan bagi generasi intelektual Indonesia dalam menyongsong masa depannya. Masalahnya, suasana seperti itu tidak muncul pada saat bangsa ini menghadapi pemilu dan pilpres yang lalu. Memang cukup banyak wacana yang mengemuka, tapi hanya sebatas disebut-sebut di permukaan. Tidak menukik menjadi pemikiran ideologis (kalau mengarahnya kesana) yang substantif.

Salah satu yang menarik dari fenomena kepemimpinan Xi Jinping di Tiongkok adalah kemungkinan munculnya kesadaran serta kesepakatan dalam memadukan pemikiran-pemikiran besar dari luar sebagai komplementer terhadap pemaknaan tradisi yang berskalaluas. Muncul kesan, tradisi dipelihara dengan baik sementara pengaruh dari luar pun diterima dengan sikap waspada. Tiongkok saat ini terkesan lebih terbuka tapi dengan segala cara tetap konsisten menyembunyikan banyak persoalan.

Di negeri ini, Pancasila misalnya, sudahseringdipertanyakan dan menjadibahansilangpendapat. Tapi akar masalahnya seolah belum terungkap. Tradisi intelektual yang telah dipraktikkan Soekarno, terutama di masa mudanya, seolah sudah kehilangan jejak. Padahal dalam menghadapi tantangan yang serba cepat, bangsa ini sangat membutuhkan pemikiran-pemikiran aktual dan kontekstual sejalan kebutuhan zaman. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved