Penjualan Ransel Anti-Peluru di Amerika Melonjak Seiring Maraknya Penembakan Massal

Amerika Serikat kembali diguncang serangkaian insiden penembakan massal yang menambah panjang catatan kasus penyalahgunaan senjata api

Penjualan Ransel Anti-Peluru di Amerika Melonjak Seiring Maraknya Penembakan Massal
GOOGLE
Ilustrasi penembakan 

TRIBUNJATENG.COM - Amerika Serikat kembali diguncang serangkaian insiden penembakan massal yang menambah panjang catatan kasus penyalahgunaan senjata api di negara adidaya itu.

Dua insiden terbaru terjadi di El Paso, Texas dan Dayton, Ohio, yang hanya berselang kurang dari 24 jam dan menewaskan total 31 orang serta melukai puluhan lainnya.

Tragedi penembakan itu telah membuat keluarga korban, warga sekitar, hingga masyarakat AS berduka.

Namun di lain sisi, semakin maraknya insiden penembakan ternyata justru membawa keuntungan bagi produsen ransel anti-peluru, yang mengalami peningkatan penjualan.

Dilaporkan CNN, yang dikutip New York Post, perusahaan Bullet Blocker, yang memproduksi ransel tahan peluru, mengalami lonjakan penjualan sebesar 200 persen sejak insiden penembakan pada awal Agustus lalu.

Perusahaan itu didirikan oleh ayah dua orang anak, Joe Curran, pascainsiden penembakan massal di Virginia Tech pada 2007, yang menewaskan 33 orang.

Produsen lainnya, Tuffypacks, bahkan mencatatkan lonjakan penjualan hingga 300 persen.

"Kami selalu melihat lonjakan penjualan dalam beberapa hari hingga minggu setelah penembakan," kata CEO Tuffypacks, Steve Naremore, kepada CNN.

Yasie Sheikh, presiden perusahaan Guard Dog Security, yang juga memproduksi tas anti-peluru, mengaku tidak ingin menarik keterkaitan langsung antara insiden penembakan massal dengan peningkatan penjualan.

 "Apa yang kami temukan adalah terkadang peristiwa memicu kesadaran akan produk yang semakin tinggi," kata Sheikh, kepada CNN.

Halaman
12
Editor: galih pujo asmoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved