Sopir Angkot R6 Protes Rencana Trans Jateng Rute Semarang-Kendal : Nanti Penumpang Kami Hilang

Sopir angkutan kota R6 meminta rute Trans Jateng Koridor III tidak memasuki Kawasan Industri Wijayakusuma Kota Semarang.

Sopir Angkot R6 Protes Rencana Trans Jateng Rute Semarang-Kendal : Nanti Penumpang Kami Hilang
TRIBUN JATENG/JAMAL A NASHR
Spanduk penolakan Trans Jateng di depan Terminal Mangkang, Rabu (14/8/2019) 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sopir angkutan kota R6 meminta rute Trans Jateng Koridor III tidak memasuki Kawasan Industri Wijayakusuma Kota Semarang.

Masuknya Trans Jateng ke kawasan industri dikhawatirkan akan menggusur penumpang angkot R6.

Selama ini, angkot R6 memiliki trayek Terminal Mangkang-Kawasan Industri Wijayakusuma-Krapyak.

Mobilitas karyawan di kawasan industri merupakan penumpang utama angkot R6. Sopir angkot R6 hanya aktif bekerja ketika jam berangkat dan pulang karyawan.

"Keberatan, kecewa, kalau sampai masuk kawasan nanti penumpang kami hilang," ungkap Ketua Paguyuban Sopir Angkot R6, Suyadi, Rabu (14/8/2019).

Suyadi menyebutkan, sebelumnya telah melayangkan protes atas keberatan anggotanya tentang rute Trans Jateng Koridor III yang rencananya akan memasuki kawasan industri.

"Kita sudah membuat penolakan ke Pemerintah Provinsi dan Organda tetapi belum ada tanggapan, sudah sepuluh hari yang lalu," katanya.

Pihaknya mengaku tidak menolak kebaradaan Trans Jateng Koridor III, ia hanya keberatan jika Trans Jateng melewati rute yang selama ini menjadi andalan sopir angkot R6, yaitu kawasan industri. Angkot R6 saat ini memiliki anggota 56 armada.

"Usulannya kami kalau ada Trans Jateng cukup sampai terminal, tidak sampai kawasan," ujarnya.

Menurutnya, angkot akan kalah jika bersaing Trans Jateng karena kualitas armada dan harga. Jika pemerintah menetapkan rute Trans Jateng Koridor III melewati kawasan industri, ia meminta trayek angkot R6 diperpanjang sampai Kaliwungu atau Kendal.

"Kekhawatiran anggota saya, kalau ada Trans Jateng nanti penumpangnya habis soalnya tarifnya cuma seribu untuk karyawan dan pelajar. Nanti mau makan apa," ucapnya.

Ia mengatakan, setiap hari mengantongi hasil kotor Rp 140 ribu hasil menarik angkot. Hasil tersebut belum dikurangi Rp 40 ribu untuk beli bahan bakar dan Rp 70 ribu setoran.

Ia tidak tahu berapa uang yang akan diperoleh jika akan bersaing dengan Trans Jateng.(*)

Penulis: Jamal A. Nashr
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved