Ngopi Pagi

Fokus : Nasionalisme

KEMERIAHAN HUT RI tiap tahunnya adalah ditandai dengan beragam perlombaan. Kegiatan perlombaan umumnya dilakukan sederhana

Fokus : Nasionalisme
tribunjateng/bram
Moh Anhar wartawan Tribun Jateng ok 

Oleh Tribun Jateng

Wartawan Tribun Jateng

KEMERIAHAN HUT RI tiap tahunnya adalah ditandai dengan beragam perlombaan. Kegiatan perlombaan umumnya dilakukan sederhana: makan kerupuk, balap karung, atau tarik tambang. Yang terpenting ada kegembiraan dan keguyuban masyarakat.
Ada pula yang lomba serius, semacam kompetisi di bidang olahraga antarkampung. Atlet-atlet dadakan muncul dalam kesempatan ini.

Yang selalu juga ada adalah syukuran dengan nasi tumpeng, yang biasanya akan digelar nanti malam. Elemen dekorasi umbul-umbul dan bendera merah-putih dikibarkan sebulan penuh. "Ikon" ini serasa melengkapi agenda upacara tujuhbelasan, baik dilakukan di sekolah-sekolah, elemen masyarakat, maupun instansi pemerintah.

Gapura kampung dicat untuk mendapatkan suasana baru hingga lampu penjor dipasang menjuntai dan bersinar terang. Bukan sekadar hingar bingar tanpa guna. Segala hal tersebut diharapkan mampu memberi semangat nasionalisme dan cinta tanah air. Selain itu, sebagai pengingat bahwa negeri Indonesia ini pernah menjadi daerah jajahan dan 74 tahun lalu proklamasi kemerdekaan dikumandangkan.

Nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa harus terpatri di dada segenap bangsa. Bagaimana nasib sebagai negeri jajahan, lalu menyatukan tekad beragam suku, agama, ras, dan kebudayaan menjadi satu bangsa yang besar. Mengingat sejarah, maka akan mampu menjadi pijakan berpikir dan bertindak bagaimana membangun masa depan bangsa ini. Semangat juang memang harus terus ditumbuhkan, begitupun di era sekarang ini.

Kita sudah tak lagi mengalami zaman perang fisik. Maka, tantangan bangsa ini bukan lagi sebatas kekuatan militer sebagai poros ketahanan dari serangan luar ataupun pengacau keamanan.

Transformasi digital membawa pengaruh derasnya informasi dan komunikasi lebih mudah berseliweran. Dan, ideologi Pancasila, yang menjadi falsafah berbangsa ini, yang saat ini mendapatkan ujian. Politik identitas hingga muncul ide pendirian khilafah merupakan contoh fakta tantangan yang bisa terlihat sekarang.

Pancasila sebagai hasil kesepakatan para pendiri bangsa dinilai menjadi alat pemersatu bangsa yang beragam latar belakang. Tentu saja kita berharap persatuan dan kesatuan ini akan terus terjaga, di tengah perbedaan yang ada.

Persatuan akan menopang stabilitas politik dan kehidupan bernegara. Ini menjadi tugas yang harus digarisbawahi Joko Widodo, presiden terpilih dalam Pilpres 2019, saat memimpin bangsa ini.

Momen pilpres yang baru saja usai memperlihatkan bagaimana intrik politik antarpedukung calon presiden saja bisa berlarut-larut. Kolom komentar di media sosial begitu riuh dan berisik, diwarnai hujatan dan caci maki. Ini fakta. Kita tak bisa memungkiri persoalan dukung-mendukung calon pun bisa memecah belah anak bangsa.

Kita masih butuh kedewasaan bersikap, terutama bagaimana kita bisa memilki pandangan terbuka dan legawa terhadap segala hal perbedaan. Perbedaan ini harus dirayakan. Dunia internasional mengakui Indonesia sebagai bangsa besar yang majemuk yang diliputi rasa damai. Tugas kita kini merawatnya. Syukur, membawa nama harum di dunia internasional.

Seperti hasil penelitian karya tulis kedua siswa SMA 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah yang berhasil meraih medali emas dalam World Invention Creativity Olympic (WICO) yang diadakan di Seoul, Korea Selatan pada 28 Juli 2019 lalu, menjadi viral. Ini lantaran, tema penelitian yang mereka angkat merupakan hal langka dan diharapkan betul manfaatnya. Penelitian mereka tentang manfaat obat kanker bajakah.

Penghargaan ini yang berangkat dari pemanfaat potensi lingkungan. Kita berharap, ke depan, makin banyak anak muda yang termotivasi untuk berprestasi. (*)

Penulis: moh anhar
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved