OPINI Paulus Mujiran : Spirit Merayakan Hari Kemerdekaan

Bangsa Indonesia kembali merayakan kemerdekaan yang ke 74. Sejarah mencatat, kemerdekaan bangsa ini lahir dengan tetesan darah dan keringat para pejua

OPINI Paulus Mujiran : Spirit Merayakan Hari Kemerdekaan
Tribun Jateng
Paulus Mujiran 

Oleh Paulus Mujiran

Alumnus Pascasarjana Undip Semarang).

Bangsa Indonesia kembali merayakan kemerdekaan yang ke 74. Sejarah mencatat, kemerdekaan bangsa ini lahir dengan tetesan darah dan keringat para pejuang kemerdekaan. Kita pantas berterima kasih kepada para pahlawan yang mengantar negeri ini pada kemerdekaan bangsanya. Tentu saja bukan sejarah yang pendek karena 350 tahun kita dijajah bangsa Belanda dan 3,5 tahun kita dijajah bangsa Jepang dengan segala penderitaan dan kesengsaraannya. Kini ketika Indonesia memasuki usia ke 74 keadaan bangsa seperti berbalik 180 derajat dengan era perjuangan.

Para pendiri bangsa ini adalah saksi sejarah bagaimana kemerdekaan bangsa ini direbut dari tangan penjajah bukan hadiah dari Jepang sebagaimana cerita yang selama ini sering kita dengarkan. Anugerah kemerdekaan ini layak dan pantas untuk disyukuri karena diperjuangkan dengan penderitaan dan pengorbanan selama berabad-abad. Dulu para pejuang mengusir penjajah karena merasakan pengalaman dijajah merupakan pengalaman tidak enak dan menderita.

Masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Harapan akan masa depan bangsa yang indah sebagaimana diamanatkan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 hanyalah utopia belaka. Tentu saja kondisi amat memprihatinkan. Ketika bangsa-bangsa lain tengah mengalami peningkatan dalam segala hal bangsa kita justru dalam keadaan terpuruk. Kemerdekaan yang diperjuangkan para pahlawan seperti tak bergena. Kemerdekaan tak lebih dari sekedar kebebasan yang tanpa batas.

Mereka menyingsingkan lengan baju, meninggalkan hidup enak, suku, agama, budaya, demi memerdekakan Indonesia. Mereka pun mau berkompromi untuk sebuah dasar negara Pancasila dan UUD 1945. Mereka meneteskan darah dan air mata agar Indonesia merdeka. Dengan demikian mereka melepas segala macam egoisme demi Indonesia merdeka. Pada detik-detik yang amat krusial penyusunan dasar negara para pendiri bangsa mau berkompromi untuk keutuhan Indonesia.

Kita sepakat perlunya merumuskan kembali nasionalisme atau rasa kebangsaan. Perlu perumusan ulang apa sebetulnya nasionalisme, rasa kebangsaan, serta mental bangsa tersebut. Dulu ketika para pahlawan berjuang tidak ada keinginan untuk berbagi-bagi kavling jabatan. Namun yang terjadi kini partai politik sekarang telah membagi jatah kedudukan untuk kepentingan mereka sendiri. Partai politik menjadikan negeri ini sebagai milik mereka sendiri untuk mengambil apa saja yang mereka perlukan secara cuma-cuma.

Sejatinya nilai-nilai perjuangan akan senantiasa ada dalam perjalanan manusia. Kendati ruang dan waktunya berbeda, nilai-nilai kejuangan itu bersifat universal, yakni kerelaan berkorban tanpa pamrih bagi sesamanya. Nilai-nilai itu tetap relevan juga pasa masa kini. Sekarang ini, justru kita kesulitan mendapatkan pemimpin dengan kerelaan berkorban, yang ikhlas menjalankan amanat. Di masa lalu kita banyak melahirkan para pahlawan pejuang yang pusaranya ada di makam-makam pahlawan. Sayang kini kita tidak mempunyai sosok yang sama dan menjadi idola anak cucu.

Di usia kemerdekaan ke 74 bangsa ini harus melahirkan pejuang-pejuang baru yang relevan dengan keadaan bangsa ini sekarang. Ketika negara berada dalam kubangan karena krisis, kemiskinan, pengangguran maka diperlukan model kejuangan baru yang lebih relevan. Mereka yang berupaya mengatasi kemiskinan dan kebodohan adalah pejuang. Juga mereka yang berani menyediakan lapangan kerja bagi orang lain adalah pejuang. Juga mereka yang berani memelihara toleransi keagamaan.

Kita membutuhkan figur yang layak disebut sebagai pemimpin sekaligus pejuang pada masa sekarang, saat kita tengah menghadapi krisis hampir di segala bidang kehidupan bangsa. Spirit perjuangan dan juga kepahlawanan seperti selama ini diartikan oleh orang banyak, merupakan sikap serta keberanian di atas rata-rata manusia untuk mengorbankan jiwa dan raga demi membela kepentingan umum. Kemerdekaan adalah jalan untuk merenggut martabat manusia bukan sebaliknya.

Perjuangan para pemuda saat mulai menggelorakan semangat perjuangan dan persatuan dari rentang 1908, 1928, dan mencapai puncaknya pada 17 Agustus 1945, jelas merupakan sikap tanpa pamrih, di tengah cengkeraman kolonialisme yang masih sangat kuat. Itu juga merupakan refleksi dari sifat kenegarawan yakni kerelaan berkorban menyingkirkan kepentingan pribadi dan golongan, tetapi lebih mengedepankan kepentingan bangsa dan negara. Kita saat ini mengalami krisis jiwa patriotisme yang sebenarnya senantiasa menjaman di setiap ruang dan waktu.

Rasa patriotisme kebangsaan harus terus ditanamkan terutama kepada generasi muda. Oleh karena itu kemerdekaan yang kita lakukan sekarang harus diberikan makna yang baru. Orientasi untuk meneguhkan nilai-nilai bersama yang saling menguatkan. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah spirit dan roh kehidupan bersama. Kemerdekaan tidak terletak pada bagaimana merayakan namun hendak kita isi dengan apa kemerdekaan yang telah berhasil diraih ini. Kita memang berhadapan dengan tantangan masa depan yang besar. Kemerdekaan harus terus kita isi dan perjuangkan. Dirgahayu Republik Indonesia ke 74. (*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved