OPINI Mohammad Farid Fad : Masa Depan Politik Identitas

Paska rekonsiliasi MRT (13/7) dan diplomasi nasi goreng (24/7), ruang publik perlahan tapi pasti kembali jernih.

OPINI Mohammad Farid Fad : Masa Depan Politik Identitas
TRIBUNJATENG/CETAK/BRAM
Opini ditulis oleh Mohammad Farid Fad, Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Pengurus Wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU (PW RMI NU) Jawa Tengah. 

Oleh Mohammad Farid Fad

Pengasuh Ponpes Raudlatul Muta’allimin Kendal, dosen UIN Walisongo Semarang

Paska rekonsiliasi MRT (13/7) dan diplomasi nasi goreng (24/7), ruang publik perlahan tapi pasti kembali jernih. Pembelahan publik yang semula mengental menjadi cair. Peta koalisi pun semakin menyublim. Muncullah gejala penghabluran, berbondong-bondong merapat ke dalam koalisi Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf demi meraih kursi kabinet. Lalu, bagaimana nasib politik identitas ke depan?

Sungguhironi,bilaretorika dan simbol agama dimainkan tiap jelang Pemilu. Seolah memunggungi ajarannya yang sakralbila nilai-nilainyaharus diturunkan menjadi bahan olok-olok kampanye.

Agama dibonsai maknanya, cuma jadigincupemerah wicara. Jejak-jejak ketuhanan justru disapu diantara deru mesinhasrat guna menjejakkan egonya di kursi tahta.Pun,citraYang Maha Pengasih dan Penyayang disalin rupa oleh mesin-mesin angkara murka.

Munculnyapolitik identitasditengaraisebagaiunintended consequencesdemokrasi kita yang cenderung kebablasan.Iamerupakan limbahreformasiyang dapatmerusak jahitan solidaritas kebangsaan yang tersulam rapi selama ini.

Hal ini disebabkan eksistensinya meniscayakan prinsip zero sum game, yang satu untung sementara yang lain buntung. Meski ia bukan barang baru dalam demokrasi, tetap saja membuat demokrasi yang seharusnya ramai lalu lintas gagasan, menjadi bising nir-makna. Imbasnya, kita terjebak dalam labirin kegaduhan.

Apalagi bila diperparah dengan hiruk-pikuk di linimasa, yang diwarnai ragam provokasi dan agitasi. Kegaduhan demi kegaduhan kian menggergaji pilar-pilar demokrasi. Kebencian menjadi diksi langganan yang menyumpal media sosial saban hari. Padahal politik semestinya menjadi ladang persemaian kebajikan (virtue), bukan sekedar pemburu rente kuasa. Keblinger tahta kekuasaan justru “kegilaan” tersendiri yang mengurung manusia dalam kondisi rasa ketidakpuasan yang abadi (permanent dissatisfaction).

Kondisi kekurangtegasan, ketimpangan ekonomi dan rasa ketidakadilan yang dieksploitasi merupakan humusbagi klaim-klaim politik identitas. Atas nama kebebasan yang menjadi cacat bawaan demokrasi, menjadikan kerumunan massa sebagai kelompok penekan yang berfungsi memuluskan jalan menuju kuasa.

Akibatnya, tak jarang agama hanya menjadi kuda troya kepentingan politik yang mempersempit bilik-bilik budaya.Mengubah spiritualitas agama yang semula sebagai madu menjadi racun dalam perpolitikan kita. Bak topeng simulakra yang berlapis pemanisbuatandan kosmetikpalsu.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved