Persaudaraan Lintas Agama di Semarang Ajak Masyarakat Bersikap Toleran Terhadap Pendatang dari Papua
Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang memberikan beberapa sikapnya yang disampaikan saat berkunjung ke ruang pers kantor Gubernur Jawa Tengah.
Penulis: faisal affan | Editor: suharno
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tepat sehari setelah Hari Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia, muncul sebuah pemberitaan mengenai tindakan represif dan penghinaan bernada rasialis kepada mahasiswa Papua di Surabaya.
Seluruh mahasiswa Papua yang tinggal di asrama mahasiswa Papua di Jalan Kalasan nomor 10 Surabaya, mendapatkan makian bernada rasialis setelah sebelumnya dituduh merusak tiang bendera.
Tindakan tersebut yang akhirnya memicu kerusuhan di Manokwari yang berujung pada pembakaran gedung DPRD Papua.
Menyikapi hal tersebut, Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang memberikan beberapa sikapnya yang disampaikan saat berkunjung ke ruang pers kantor Gubernur Jawa Tengah, Selasa (20/8/2019).
• Akhir Pekan Ini, Banaran Coffe Festival 2019 Bagikan 74.000 Cangkir Kopi Gratis
Koordinator Aksi, Setyawan Budy, mengatakan menyayangkan tindakan represif dan ungkapan rasial kepada mahasiswa Papua.
"Rasialisme adalah tindakan yang melanggar norma universal hak asasi manusia mengenai prinsip kesederajatan martabat. Itu sesuai dengan konvensi internasional penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial yang disepakatan oleh negara-negara anggota PBB, termasuk Indonesia," bebernya.
Ia melanjutkan, berkaitan dengan UU no 40 tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis, maka segala hal yang berkaitan dengan perendahan martabat seseorang maupun kelompok atas dasar perbedaan rasial, etnis, agama, dan bahasa tidak dibenarkan.
"Kami juga menghimbau kepada masyarakat untuk bersikap terbuka dan toleran terhadap perbedaan etnis, ras, agama, bahasa, dan adat istiaadat. Selain itu, kami ingin mengajak masyarakat untuk mendorong semangat dan sikap persaudaraan dalam keberagaman dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.
• XL Axiata Kenalkan Scrum dan DevOps untuk Pengembangan Transfer Data Melalui IoT
Setyawan ingin masyarakat mau merangkul orang yang datang dari daerah lain untuk bersekolah maupun bekerja sebagai bagian dari komunitas masyarakat sendiri.
"Terakhir, kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak terprovokasi dengan kejadian-kejadian yang bisa memecah belah persaudaraan kita sebagai bangsa Indonesia. Bangsa yang majemuk dan kaya budaya, agama, ras, etnis, dan lainnya," tutupnya. (afn)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/sejumlah-orang-perwakilan-dari-persaudaraan-lintas-agama-di-semarang.jpg)